Pemerintah Rusia menegaskan bahwa mereka akan mematuhi pembatasan senjata nuklir yang ditetapkan dalam perjanjian pengendalian senjata yang telah berakhir dengan Amerika Serikat, asalkan Washington juga melakukan hal yang sama.
Traktat New START -- perjanjian terakhir antara dua kekuatan nuklir terbesar di dunia tersebut -- berakhir awal bulan ini. Washington tidak menanggapi tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin untuk perpanjangan satu tahun atas batasan jumlah persenjataan nuklir masing-masing pihak.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa Moskow tidak terburu-buru untuk mulai mengembangkan dan menempatkan lebih banyak senjata. Dia menarik kembali komentar kementeriannya pekan lalu, yang mengatakan Rusia kini tidak lagi terikat oleh ketentuan perjanjian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berangkat dari fakta bahwa moratorium ini, yang diumumkan oleh presiden kami, tetap berlaku, tetapi hanya selama Amerika Serikat tidak melampaui batasan yang telah ditetapkan," kata Lavrov dalam pidatonya di parlemen Rusia, dilansir kantor berita AFP, Rabu (11/2/2026).
Kedua pihak telah mengindikasikan bahwa mereka ingin mencapai kesepakatan pengendalian senjata baru.
Washington telah mendorong agar China dilibatkan dalam pembicaraan tersebut, dengan merujuk pada persenjataan nuklirnya yang terus berkembang.
Moskow mengatakan jika China dilibatkan dalam kesepakatan baru, maka sekutu-sekutu nuklir Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, juga harus diikutsertakan.
Berakhirnya Traktat New START, yang membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan, menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian untuk membatasi penempatan senjata paling destruktif di planet ini. Hal ini memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
Presiden AS Donald Trump mengatakan New START "dinegosiasikan dengan buruk" dan "sedang dilanggar secara terang-terangan".
Pada tahun 2023, Rusia menolak inspeksi situs-situs nuklirnya berdasarkan perjanjian tersebut, seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait konflik di Ukraina.
Namun, Rusia mengatakan tetap berkomitmen pada batasan kuantitatif yang telah ditetapkan.
Tonton juga video "Trump Ingin Buat Perjanjian Nuklir Baru dengan Rusia"










































