Rusia Serang Fasilitas Energi Ukraina, Ratusan Ribu Warga Kedinginan

Rusia Serang Fasilitas Energi Ukraina, Ratusan Ribu Warga Kedinginan

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 04 Feb 2026 08:51 WIB
Rusia Serang Fasilitas Energi Ukraina, Ratusan Ribu Warga Kedinginan
Seorang pria duduk di sofa di lorong pusat transit bagi pengungsi akibat serangan Rusia, di Zaporizhzhia, pada 29 Januari 2026.(Foto: Tetiana DZHAFAROVA / AFP)
Jakarta -

Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas energi Ukraina. Serangan tersebut menyebabkan ratusan ribu orang tanpa pemanas di tengah suhu dingin menjelang pembicaraan untuk mengakhiri perang.

Serangan Rusia tersebut dilakukan pada Selasa malam, saat suhu turun ke titik terendah sejak awal perang pada Februari 2022. Serangan itu menewaskan dua remaja di kota Zaporizhzhia di selatan dan merusak monumen Perang Dunia II era Soviet.

Serangan itu terjadi sehari sebelum para negosiator Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu untuk putaran kedua pembicaraan yang dimediasi oleh AS di Abu Dhabi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mengecam serangan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memanfaatkan hari-hari terdingin di musim dingin untuk meneror orang lebih penting bagi Rusia daripada beralih ke diplomasi," kata Zelensky, dilansir AFP, Rabu (4/2/2026)

ADVERTISEMENT

Zelensky mengatakan Rusia "sekali lagi mengabaikan upaya pihak Amerika".

Sementara itu Presiden AS Donald Trump mendesak Vladimir Putin mengakhiri perang. Trump menambahkan ia "ingin" Rusia memperpanjang penghentian sementara serangan karena suhu yang sangat dingin.

Kepala NATO Mark Rutte, yang mengunjungi Kyiv pada Selasa, mengatakan "serangan Rusia seperti tadi malam, tidak menandakan keseriusan tentang perdamaian".

Saat serangan Rusia ke Ukraina dilakukan, terdengar sinyal peringatan udara berbunyi di seluruh Kyiv selama kunjungan Rutte.

Wartawan AFP mendengar ledakan di seluruh ibu kota semalaman. Sementara penduduk di ratusan bangunan terbangun mendapati pemanas udaranya mati karena suhu turun mendekati minus 20 derajat Celcius.

"Lebih dari 1.100 bangunan tempat tinggal masih tanpa pemanas hingga Selasa malam," kata Menteri Restorasi Oleksiy Kuleba.

Beberapa penduduk berkumpul di sekitar bangunan yang rusak, melangkahi puing-puing yang berderak dan lapisan es tebal yang menutupi tanah.

"Jendela kami pecah dan kami tidak memiliki pemanas," kata seorang warga, Anastasia Grytsenko.

"Kami tidak tahu harus berbuat apa," imbuhnya.

Sementara itu Kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi telah melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap "perusahaan kompleks industri militer Ukraina dan fasilitas energi".

Adapun Rusia pada pekan lalu mengatakan telah menyetujui permintaan AS untuk tidak menyerang Kyiv selama tujuh hari, yang berakhir pada hari Minggu.

Ukraina tidak melaporkan serangan besar-besaran Rusia di ibu kota pekan lalu, sementara mengecam serangan yang terus berlanjut di bagian lain negara itu.

"Beberapa jenis rudal balistik dan jelajah, serta drone, digunakan untuk menyerang gedung-gedung tinggi dan pembangkit listrik tenaga termal," kata Menteri Energi Denys Shmygal.

"Ratusan ribu keluarga, termasuk anak-anak, sengaja dibiarkan tanpa pemanas di tengah cuaca dingin yang ekstrem," tambahnya.

Serangan pada hari Selasa terhadap fasilitas energi ini merupakan "yang paling dahsyat" sejak awal tahun 2026, demikian konfirmasi penyedia energi swasta terbesar Ukraina.

Simak juga Video 'Ukraina Dingin Ekstrem, Trump Minta Putin Tak Serang Kyiv Seminggu':

Halaman 2 dari 2
(yld/zap)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads