Trump Dapat Laporan Intelijen Soal Rezim Iran Kini di Titik Terlemah

Trump Dapat Laporan Intelijen Soal Rezim Iran Kini di Titik Terlemah

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 27 Jan 2026 16:39 WIB
Trump Dapat Laporan Intelijen Soal Rezim Iran Kini di Titik Terlemah
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ALEX WONG)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menerima beberapa laporan intelijen AS yang mengindikasikan melemahnya rezim Iran sejak diguncang unjuk rasa antipemerintah, beberapa waktu terakhir.

Bahkan disebutkan laporan intelijen AS itu, bahwa rezim yang berkuasa di Iran kini berada pada titik terlemah sejak penggulingan Shah dalam revolusi tahun 1979 silam, atau empat dekade lalu.

Laporan intelijen AS kepada Trump itu diungkapkan oleh sejumlah sumber AS yang memahami informasi tersebut, seperti dilaporkan media terkemuka New York Times (NYT) dan dilansir The Times of Israel, Selasa (27/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Laporan (intelijen AS) tersebut mengisyaratkan bahwa cengkeraman pemerintah Iran terhadap kekuasaan berada pada titik terlemahnya sejak Shah digulingkan dalam revolusi tahun 1979," sebut NYT dalam laporannya.

Unjuk rasa antipemerintah pada akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, menurut laporan NYT, telah mengguncang beberapa elemen pemerintah Iran, terutama karena aksi protes itu meluas ke wilayah-wilayah yang, menurut para pejabat, merupakan basis kuat pendukung Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran.

Meskipun unjuk rasa sebagian besar telah mereda, sebut laporan NYT, pemerintah Iran tetap berada dalam posisi yang sulit. Laporan intelijen AS berulang kali menyoroti bahwa selain adanya unjuk rasa, ekonomi Iran juga berada dalam kondisi sangat lemah.

Awal bulan ini, Trump hampir saja memerintahkan serangan terhadap target rezim di Iran terkait pembunuhan ribuan demonstran di negara tersebut. Namun dia menunda keputusannya, sembari juga mengerahkan aset-aset militer AS ke kawasan tersebut.

Laporan NYT itu dirilis saat Trump sedang mempertimbangkan apakah akan menggunakan kekuatan militer AS terhadap Iran.

Meskipun belum jelas apa keputusan akhir Trump, para penasihat berhaluan garis keras mendorongnya untuk bertindak dan menegakkan "garis merah" terhadap Iran. Sedangkan penasihat lainnya berpendapat bahwa tindakan militer dapat kontraproduktif dan bahwa melemahnya rezim Teheran saat ini membuka peluang langka untuk terobosan diplomatik.

Trump, dalam wawancara dengan Axios, mengatakan bahwa "armada besar di dekat Iran" setelah militer AS mengumumkan kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perang pendampingnya, yang dilengkapi rudal Tomahawk, di kawasan Timur Tengah pada Senin (26/1).

Menurut sejumlah pejabat militer AS, yang dikutip NYT, jika Trump memerintahkan serangan terhadap Iran, kelompok tempur kapal induk tersebut, secara teori, dapat beroperasi dalam waktu satu atau dua hari. Pengerahan itu mencakup sejumlah jet tempur F-15 dan jet tempur siluman F-35.

Namun demikian, Trump dalam wawancara dengan Axios juga mengatakan bahwa Teheran tertarik untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, dalam isyarat untuk opsi diplomatik.

Simak juga Video: Gedung Putih Sebut Iran Batalkan Rencana Eksekusi Mati 800 Pedemo

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait