Trump Tuduh Walkot Minneapolis Hasut Pemberontakan Usai Penembakan Fatal

Trump Tuduh Walkot Minneapolis Hasut Pemberontakan Usai Penembakan Fatal

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 26 Jan 2026 13:57 WIB
Trump Tuduh Walkot Minneapolis Hasut Pemberontakan Usai Penembakan Fatal
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP)
Minneapolis -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dan Gubernur Minnesota Tim Walz telah "menghasut pemberontakan" usai aksi protes meluas buntut penembakan oleh agen imigrasi federal AS yang menewaskan seorang pria yang berprofesi sebagai perawat.

Penembakan fatal itu, seperti dilansir AFP, Senin (26/1/2026), menjadi insiden terbaru yang melibatkan agen federal Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang dikerahkan Trump ke negara bagian Minnesota, yang dikuasai Partai Demokrat, untuk menindak para imigran ilegal. Pengerahan agen ICE ini mendapat penolakan warga dan otoritas setempat.

"Wali Kota dan Gubernur menghasut pemberontakan, dengan retorika-retorika mereka yang sombong, berbahaya dan arogan!" tuduh Trump dalam pernyataannya via Truth Social. Baik Frey maupun Walz yang dituduh Trump, berasal dari Partai Demokrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump sebelumnya mengancam akan menggunakan Undang-undang Pemberontakan, yang akan memungkinkan dirinya mengerahkan pasukan militer AS ke negara bagian Minnesota untuk tujuan penegakan hukum.

ADVERTISEMENT

Penembakan fatal yang menuai protes publik AS itu terjadi di Minneapolis, kota besar di negara bagian Minnesota, pada Sabtu (24/1) waktu setempat, ketika para agen federal ICE sedang menjalankan operasi penindakan imigran ilegal.

Seorang pria bernama Alex Pretti, yang berusia 37 tahun dan berprofesi sebagai perawat ICU, tewas ditembak secara brutal oleh seorang agen ICE. Pretti menjadi warga sipil kedua, setelah Renee Good (37), yang tewas dalam penembakan yang didalangi agen ICE di Minneapolis dalam beberapa pekan terakhir.

Baik Pretti maupun Good sama-sama merupakan warga negara AS. Sama seperti Good, kematian Pretti memicu kemarahan publik secara luas, dan menuai pertanyaan soal versi resmi insiden tersebut.

A person holds a This Is What Fascism Looks Like sign featuring a photo of Donald Trump with a Hitler-style mustache as people march during the Aksi protes meluas setelah penembakan fatal oleh agen ICE yang menewaskan seorang pria di Minneapolis, AS Foto: AFP/ROBERTO SCHMIDT

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), yang menaungi ICE, dalam penjelasannya mengklaim Pretti "mendekati para petugas Patroli Perbatasan AS dengan membawa pistol semi-otomatis 9 mm" dan "melakukan perlawanan keras" ketika petugas berupaya melucuti senjata api yang dibawanya.

"Karena khawatir akan nyawanya dan nyawa serta keselamatan rekan-rekan petugas lainnya, seorang agen melepaskan tembakan untuk membela diri. Petugas medis di lokasi kejadian segera memberikan pertolongan medis kepada pelaku, tetapi dia dinyatakan meninggal di lokasi kejadian," jelas DHS dalam pernyataan via media sosial X.

This screengrab of video footage shot by @dangjessie, shows Alex Pretti (L) and a federal immigration agent (C) before he was shot dead in Minneapolis, Minnesota, on January 24, 2026. Federal agents shot and killed Alex Pretti, a 37-year-old ICU nurse, early January 24 while scuffling with him on an icy roadway in the Midwestern city, less than three weeks after an immigration officer fired on Renee Good, also 37, killing her in her car. (Photo by -UGC / @dangjessie/UGC / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE  MANDATORY CREDIT   AFP PHOTO / @dangjessie   - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS  DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS [ NO ARCHIVE ]Alex Pretti (kiri) tampak memegang ponsel untuk merekam agen imigrasi federal AS dalam insiden di Minneapolis pada Sabtu (24/1) sebelum dia tewas ditembak Foto: AFP PHOTO/@dangjessie/UGC

DHS juga mengatakan bahwa penembakan itu terjadi selama "operasi terarah di Minneapolis terhadap seorang imigran ilegal yang diburu karena penyerangan kekerasan".

Namun rekaman video yang diambil dari lokasi kejadian menunjukkan hal yang bertentangan dengan klaim DHS, yang menuduh Pretti sebagai pihak yang memulai penyerangan. Video yang dibagikan secara luas oleh media AS menunjukkan Pretti memegang ponsel di tangannya, merekam agen federal AS di yang mengatur lalu lintas di jalanan yang tertutup salju.

Beberapa saat kemudian, Pretti tampak berlutut dalam posisi membungkuk dengan beberapa agen federal AS di atas badannya. dan kemudian seorang agen federal AS yang berseragam abu-abu tampak menarik pistol dari pinggang Pretti. Tak lama setelah itu, tembakan dilepaskan oleh agen federal AS ke arah Pretti.

Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), Kash Patel, dalam komentarnya mengatakan bahwa warga sipil "tidak boleh membawa senjata api yang berisi beberapa magasin ke lokasi protes apa pun". Namun Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O'Hara, mengatakan kepada CBS News bahwa tidak ada larangan membawa senjata api yang dimiliki secara legal saat unjuk rasa. Ditekankan bahwa pistol yang dibawa Pretti itu dimilikinya secara legal.

Walkot Minneapolis-Gubernur Minnesota Minta Trump Setop Kerahkan Agen ICE

Grey, Wali Kota Minneapolis, menyampaikan pernyataan keras mengkritik langkah Trump mengerahkan agen federal AS ke wilayahnya. Grey secara terang-terangan menyerukan Trump untuk "mengakhiri operasi ini dan menyadari bahwa hal ini tidak menciptakan keamanan di kota kami".

"Berapa banyak lagi warga, berapa banyak lagi warga Amerika, harus tewas atau terluka parah agar operasi ini berakhir?" tanya Grey seperti dilansir The Guardian.

Seruan serupa juga disampaikan Walz sebagai Gubernur Minnesota. "Minnesota percaya pada hukum dan ketertiban. Kami percaya pada perdamaian. Dan kami percaya bahwa Trump perlu menarik 3.000 agennya yang tidak terlatih dari Minnesota sebelum mereka membunuh warga Amerika lainnya di jalanan," cetusnya.

Trump, dalam pernyataannya pada Minggu (25/1), menyalahkan kepemimpinan Partai Demokrat di Minneapolis dan Minnesota atas kematian dua warga AS yang ditembak agen federal ICE. Dia menyebut pemimpin setempat menolak untuk mematuhi penindakan keras terhadap imigrasi yang sedang berlangsung.

"Tragisnya, dua warga negara Amerika kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari kekacauan yang ditimbulkan oleh Partai Demokrat ini," sebutnya.

Tonton juga video "Tangannya Memar Lagi, Trump: Terbentur Meja"

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads