ADVERTISEMENT

International Updates

Australia Beri Prancis Rp 8,5 T, Rudal Israel Rusak Bandara Suriah

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 11 Jun 2022 18:14 WIB
Presiden Macron turut meninjau dan ikut langsung dalam peluncuran rudal nuklir dari kapal selam.
kapal selam Prancis (Foto: Reuters/Fred Tanneau)
Jakarta -

Pemerintah Australia mengumumkan kesepakatan kompensasi dengan pembuat kapal selam Prancis, Naval Group. Kesepakatan ini mengakhiri perselisihan kontrak yang memperburuk hubungan antara Canberra dan Paris selama hampir satu tahun.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (11/6/2022), Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengatakan perusahaan Prancis itu telah menyetujui "penyelesaian yang adil" sebesar 555 juta euro (US$ 584 juta) atau sekitar Rp 8,5 triliun sebagai kompensasi atas keputusan Australia yang mengakhiri kontrak kapal selam multi-miliar dolar yang berusia satu dekade.

Albanese juga mengatakan dia akan melakukan perjalanan ke Prancis segera untuk "mengatur ulang" hubungan yang dilanda ketegangan "cukup jelas".

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (11/6/2022):

- Ngeri! Mayat Membusuk di Jalanan-Wabah Kolera Landa Mariupol Ukraina

Rakyat Ukraina yang tengah dilanda perang melawan Rusia, kini dihadapkan pada wabah penyakit.

Di kota Mariupol yang hancur akibat gempuran terus-menerus oleh pasukan Rusia, kini mengalami kerusakan sistem sanitasi dan banyak mayat-mayat membusuk di jalanan.

"Ada wabah disentri dan kolera ... Perang yang memakan 20.000 penduduk ... sayangnya, dengan wabah infeksi ini, akan merenggut ribuan nyawa warga Mariupol lagi," kata Wali Kota Mariupol kepada televisi nasional seperti diberitakan kantor berita Reuters, Sabtu (11/6/2022).

Dia meminta PBB dan Komite Internasional Palang Merah untuk bekerja membangun koridor kemanusiaan untuk memungkinkan penduduk yang tersisa meninggalkan kota, yang sekarang berada di bawah kendali Rusia.

- Kata PM Malaysia Soal Hukuman Mati: Tetap Ada Tapi Tak Lagi Wajib

Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob menegaskan bahwa hukuman mati di Malaysia tetap ada, tetapi tidak lagi wajib untuk beberapa kasus. Dia mengatakan bahwa hakim akan diberikan keleluasaan ketika menghukum terdakwa.

Dilansir dari Channel News Asia, Sabtu (11/6/2022), hal ini disampaikan pemimpin negeri jiran itu setelah Menteri di Departemen Perdana Menteri Wan Junaidi Tuanku Jaafar mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelumnya, bahwa pemerintah Malaysia telah setuju untuk menghapus hukuman mati wajib.

Menteri hukum de facto itu mengatakan bahwa hukuman mati akan diganti dengan jenis hukuman lain atas kebijaksanaan pengadilan.

- Serangan Rudal Israel Bikin Rusak Bandara Suriah, Rusia Marah!

Bandara di ibu kota Suriah, Damaskus mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel. Kementerian Transportasi Suriah menyatakan, renovasi kini dimulai di bandara yang ditutup untuk hari kedua pada Sabtu (11/6).

Simak juga 'PM Israel Temui Sheikh Mohamed bin Zayed, Bahas Apa?':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT