ADVERTISEMENT

PM Inggris Hadapi Mosi Tidak Percaya, Terancam Lengser

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 06 Jun 2022 15:24 WIB
Prime Minister Boris Johnson in 10 Downing Street, London, ahead of talks with Prime Minister of Kurdistan, Masrour Barzani Tuesday April 19, 2022. (Daniel Leal/pool photo via AP)
PM Inggris Boris Johnson (Daniel Leal/pool photo via AP)
London -

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson akan menghadapi mosi tidak percaya untuk kepemimpinannya atas Partai Konservatif yang kini berkuasa di Inggris. Voting untuk mosi tidak percaya ini dijadwalkan akan digelar pada Senin (6/6) sore waktu setempat.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (6/6/2022), laporan soal mosi tidak percaya mencuat usai media ternama Inggris, ITV News, menyebut adanya 'pemberontak' di dalam tubuh Partai Konservatif yang dipimpin Johnson. Beberapa anggota parlemen Inggris mengusulkan mosi tidak percaya untuk Johnson beberapa waktu terakhir.

Kabar soal mosi tidak percaya ini mencuat setelah Johnson dicemooh dalam acara Platinum Jubilee Ratu Inggris Elizabeth II pada akhir pekan dan usai skandal pesta saat lockdown virus Corona (COVID-19) menyelimuti pemerintahannya beberapa waktu lalu.

Johnson yang terpilih menjadi PM Inggris sejak tahun 2019 lalu, tengah menghadapi tekanan yang semakin besar dan tidak mampu beralih dari laporan merusak soal pesta-pesta yang digelar di kantor dan kediamannya di Downing Street, London, saat Inggris berada di bawah lockdown ketat Corona.

Beberapa waktu terakhir, puluhan anggota parlemen dari Partai Konservatif menyuarakan kekhawatiran apakah Johnson (57) telah kehilangan wewenangnya untuk memimpin Inggris, yang menghadapi risiko resesi, kenaikan harga bahan bakar dan makanan, dan kekacauan perjalanan di London akibat aksi mogok kerja.

Beberapa anggota parlemen di antaranya kemudian menyatakan mereka telah meminta digelarnya voting mosi tidak percaya kepada Ketua Komisi 1922 atau Komisi Anggota Privat Konservatif pada House of Commons Inggris, Graham Brady.

Voting mosi tidak percaya bisa digelar jika ambang batas 54 anggota parlemen dari Partai Konservatif yang meminta voting itu tercapai.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT