AS Bersumpah Akan Cegah Rusia Invasi Ukraina

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 14:30 WIB
President Joe Biden speaks about reaching 300 million COVID-19 vaccination shots, in the State Dining Room of the White House, Friday, June 18, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)
Joe Biden (dok. AP Photo/Evan Vucci)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menyatakan dirinya akan membuatnya 'sangat, sangat sulit' bagi Rusia untuk melancarkan invasi apapun terhadap Ukraina. Otoritas Ukraina sebelumnya memperingatkan bahwa serangan skala besar mungkin direncanakan Rusia untuk Januari tahun depan.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (4/12/2021), AS dan Ukraina sama-sama menyebut Rusia meningkatkan pengerahan tentara ke dekat perbatasan Ukraina dan menuduh Rusia tengah merencanakan invasi. Biden menyatakan dirinya tengah mempersiapkan kebijakan baru untuk menghentikan rencana Rusia menginvasi Ukraina.

Biden dan Presiden Vladimir Putin akan melakukan panggilan video untuk membahas ketegangan yang meningkat ini. Kedua belah pihak telah mengonfirmasinya pada Jumat (3/12) waktu setempat.

Berbicara kepada wartawan di Washington DC, Biden menyatakan dirinya tengah menyusun 'serangkaian inisiatif yang paling komprehensif dan bermakna untuk membuatnya sangat, sangat sulit bagi Tuan Putin untuk terus maju dan melakukan apa yang dikhawatirkan orang-orang akan dia lakukan'.

Sementara itu, usai kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia pada Kamis (2/12) waktu setempat, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan bahwa AS memiliki 'keprihatinan mendalami soal rencana Rusia untuk agresi baru terhadap Ukraina'.

Dia juga memperingatkan bahwa akan ada 'konsekuensi serius' jika Rusia 'memutuskan untuk melakukan konfrontasi'.

Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksiy Reznikov, menyebut bahwa 'periode latihan musim dingin' sudah dimulai di Rusia dan tentara Rusia sudah melakukan latihan di dekat wilayah Ukraina. Dia bahkan memperkirakan bahwa Rusia memiliki sekitar 100.000 tentara di dekat perbatasan. Rusia telah menyangkal soal penambahan pengerahan tentara ke perbatasannya.

"Waktu yang paling mungkin untuk mencapai kesiapan eskalasi adalah akhir Januari (tahun depan)," cetus Reznikov dalam pernyataannya.