India Tutup Sekolah di New Delhi Gegara Kabut Asap

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 17 Nov 2021 14:23 WIB
Morning haze and smog envelops the skyline in New Delhi, India, Friday, Nov. 5, 2021. New Delhis pollution crisis worsened on Sunday as air quality hit dangerous levels, a problem that rears its head every winter. (AP Photo/Altaf Qadri)
Kabut asap menyelimuti kota New Delhi di India (AP Photo/Altaf Qadri)
New Delhi - Otoritas kota New Delhi di India menutup sementara sekolah-sekolah hingga pemberitahuan lebih lanjut akibat tingkat polusi udara yang semakin berbahaya. Orang-orang diimbau untuk bekerja dari rumah dan truk-truk non-esensial dilarang memasuki wilayah ibu kota New Delhi.

Seperti dilansir AFP, Rabu (17/11/2021), New Delhi yang merupakan salah satu kota paling tercemar di dunia dan dihuni sekitar 20 juta orang, diselimuti kabut asap yang tebal setiap musim dingin.

Pada Sabtu (13/11) lalu, pemerintah New Delhi memerintah sekolah-sekolah untuk tutup selama sepekan dan melarang pekerjaan konstruksi selama empat hari.

Namun dalam perintah terbaru yang diloloskan pada Selasa (16/11) malam waktu setempat, Komisi Pengelolaan Kualitas Udara New Delhi menyatakan bahwa seluruh institusi pendidikan harus terus ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Perintah itu juga menyatakan bahwa lori atau truk yang tidak membawa barang-barang esensial dilarang masuk ke wilayah New Delhi hingga 21 November mendatang. Kemudian aktivitas konstruksi di seluruh wilayah ibu kota harus dihentikan sementara.

Otoritas setempat juga mengerahkan 'senjata anti-kabut' dan alat penyiram air untuk digunakan di area-area hotspot setidaknya tiga kali sehari.

Enam dari 11 pembangkit listrik tenaga termal yang berada di lokasi berjarak 300 kilometer juga diminta berhenti beroperasi hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Komisi Pengelolaan Kualitas Udara New Delhi juga menyatakan agar setidaknya 50 persen pegawai pemerintah bekerja dari rumah dan mengimbau perusahaan-perusahaan swasta untuk menerapkan langkah serupa.

Perintah itu dirilis beberapa hari setelah pemerintah New Delhi menolak seruan Mahkamah Agung India untuk menetapkan 'lockdown polusi' -- pertama kali di India -- yang akan membatasi warga New Delhi di rumah masing-masing.

Salah satu penyumbang polusi udara pada musim dingin adalah asap dari aktivitas para petani membakar sisa panen mereka di wilayah tetangga. Namun pemerintah setempat menyatakan kepada Mahkamah Agung bahwa industri menjadi penyumbang polusi terbesar diikuti oleh populasi kendaraan dan debu.

Pekan ini, tingkat populasi udara di New Delhi atau level PM 2,5 -- partikel paling berbahaya yang menyebabkan penyakit paru-paru dan jantung kronis -- menembus angka 400 di beberapa area. Pekan lalu, levelnya mencapai 500 yang jelas lebih tinggi 30 kali lipat dari level maksimum yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan Lancet tahun 2020 menyebut nyaris 17.500 orang meninggal akibat polusi udara di New Delhi sepanjang tahun 2019. Dan laporan organisasi Swiss, IQAir, tahun lalu mendapati bahwa 22 kota dari total 30 kota paling tercemar di dunia berada di India. (nvc/ita)