Rusuh Penjara Tewaskan 68 Orang, Kepala Angkatan Bersenjata Ekuador Mundur

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 10:27 WIB
Polisi Ekuador saat hendak mengevakuasi jenazah tahanan dari atas penjara Litoral, pasca kerusuhan.
puluhan orang tewas dalam kerusuhan di penjara Ekuador (Foto: AP Photo/Jose Sanchez)
Jakarta -

Kepala angkatan bersenjata dan kepala penjara Ekuador mengundurkan diri pada Senin (15/11) waktu setempat setelah kerusuhan di penjara yang menewaskan 68 orang.

Dalam sebuah pernyataan seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (16/11/2021), Presiden Guillermo Lasso menerima pengunduran diri Wakil Laksamana Jorge Cabrera, kepala komando gabungan, dan Bolivar Garzon, kepala badan penjara SNAI.

Pengunduran diri ini terjadi setelah pertempuran dua hari antara para narapidana yang bersenjatakan senjata api, parang dan bahan peledak, menyebabkan puluhan orang tewas di sebuah penjara yang penuh sesak di kota Guayaquil, sebelum pihak berwenang bisa menguasai kembali keadaan.

Unggahan media sosial menunjukkan foto-foto mengerikan dari para tahanan yang memukuli dan membakar mayat-mayat berlumuran darah dalam peristiwa yang oleh pemerintah disebut "barbar."

"Negara ini sedang diserang, di bawah mafia kartel narkoba internasional," kata juru bicara kepresidenan Carlos Jijon kepada jaringan Teleamazonas.

Lasso menunjuk komandan Angkatan Darat Jenderal Orlando Fuel sebagai kepala komando gabungan yang baru. Marlo Brito, yang merupakan kepala Pusat Intelijen Strategis (CIES), mengambil alih dari Garzon di SNAI.

Tahun ini, penjara-penjara Ekuador yang penuh kekerasan dan penuh sesak telah menyaksikan beberapa kerusuhan terburuk dalam sejarah penjara Amerika Latin.

Lebih dari 320 narapidana telah tewas sejauh ini pada tahun 2021. Kerusuhan terbaru di penjara di Guayaquil terjadi meskipun keadaan darurat diberlakukan di sistem penjara Ekuador setelah baku tembak yang lebih mematikan pada bulan September lalu.

Sebelumnya, kerusuhan lain di penjara yang sama di barat daya Ekuador tersebut pada bulan September menewaskan 119 orang -- menjadikannya pembantaian terbesar dalam sejarah negara itu, dan salah satu yang terburuk di Amerika Latin.

(ita/ita)