Paus Fransiskus Berterima Kasih ke Pers yang Bongkar Skandal Seks Pastor

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 15 Nov 2021 12:56 WIB
Pope Francis speaks from the window of his studio overlooking St. Peters Square at The Vatican to a crowd of faithful and pilgrims gathered for the Sunday Angelus noon prayer, Sunday, June 6, 2021. Pope Francis has expressed sorrow over the discovery in Canada of the remains of 215 boarding school students but didnt offer the apology sought by the Canadian prime minister. Francis in public remarks on Sunday called on political and church authorities to work to shed light “on this sad affair” and to foster healing. (AP Photo/Domenico Stinellis)
Paus Fransiskus (dok. AP Photo/Domenico Stinellis)
Vatican City -

Paus Fransiskus berterima kasih kepada para wartawan karena membantu membongkar skandal pelecehan seksual pastor yang mengguncang Gereja Katolik Roma, yang awal-awalnya berusaha ditutupi.

Seperti dilansir Reuters, Senin (15/11/2021), Paus Fransiskus memuji apa yang disebutnya sebagai 'misi' jurnalisme. Dikatakannya, penting bagi para wartawan untuk keluar dari newsroom mereka, dan menemukan apa yang terjadi di dunia luar untuk menangkal informasi keliru yang seringkali ditemukan secara online.

"Terima kasih atas apa yang Anda katakan kepada kami soal apa yang salah dengan Gereja, untuk membantu kami untuk tidak diabaikan, dan untuk suara yang Anda berikan kepada para korban pelecehan," ucap Paus Fransiskus pada Sabtu (13/10) waktu setempat.

Hal itu disampaikan Paus Fransiskus saat berbicara dalam seremoni menghormati dua koresponden veteran, Philip Pullella dari Reuters dan Valentina Alazraki dari Noticieros Televisa dari Meksiko, untuk karier jangka panjang mereka melakukan peliputan di Vatikan.

Skandal pelecehan seksual pastor menjadi pemberitaan utama tahun 2002, ketika surat kabar Amerika Serikat (AS), Boston Globe, menulis serangkaian artikel yang mengungkap pola pelecehan seksual anak oleh pastor dan rohaniwan gereja dan budaya menutup-nutupi secara luas di dalam Gereja.

Sejak saat itu, berbagai skandal mengguncang Gereja di banyak negara, yang terkini di Prancis saat penyelidikan besar menemukan pada Oktober lalu bahwa para rohaniwan Prancis melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 200.000 anak dalam 70 tahun terakhir.

Para pengkritik menuduh Paus Fransiskus merespons terlalu lamban skandal tersebut, setelah dia mulai menjabat tahun 2013. Paus Fransiskus juga dituduh lebih mempercayai kata-kata rohaniwan gereja dibandingkan keterangan para korban.