Komentarnya Bikin Marah Arab Saudi, Menteri Lebanon Siap Mundur

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 13 Nov 2021 17:52 WIB
A Saudi Arabian flag flies on Saudi Arabias consulate in Istanbul on October 4, 2018. - Jamal Khashoggi, a veteran Saudi journalist who has been critical towards the Saudi government has gone missing after visiting the kingdoms consulate in Istanbul on October 2, 2018, the Washington Post reported. (Photo by OZAN KOSE / AFP)
Foto: AFP/OZAN KOSE
Jakarta -

Menteri Informasi Lebanon George Kordahi mengatakan bahwa dirinya tidak dalam posisi untuk menantang siapa pun setelah komentarnya mengenai perang Yaman membuat marah Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

Kordahi juga mengatakan dirinya siap untuk mengundurkan diri dari jabatannya jika ada jaminan bahwa negara-negara Teluk akan mengubah posisi mereka terhadap Lebanon.

"Ketika ada jaminan, saya siap mengundurkan diri dan saya tidak menentang siapa pun, baik perdana menteri maupun Arab Saudi yang saya cintai," kata Kordahi setelah pertemuannya dengan ketua parlemen Lebanon, Nabih Berri seperti diberitakan Anadolu Agency, Sabtu (13/11/2021).

Hubungan antara negara-negara Teluk dan Lebanon tegang karena pernyataan yang dibuat oleh Kordahi tentang konflik Yaman sebelum dia memegang jabatannya di pemerintahan baru Lebanon.

Ketika ditanya dalam sebuah wawancara televisi apakah dia "berpikir bahwa Houthi, seperti halnya Hizbullah, membela tanah mereka sebagai organisasi bersenjata," Kordahi menjawab: "Tentu saja mereka membela diri ... Pendapat pribadi saya adalah bahwa perang di Yaman ini harus berakhir. Rumah, gedung, desa, dan kota diserang oleh jet-jet tempur."

Marah dengan komentar Kordahi tersebut, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain menarik duta besar mereka dari Lebanon.

Pemerintah Lebanon telah mengatakan bahwa pernyataan Kordahi "ditolak dan tidak mencerminkan posisi pemerintah". Disebutkan bahwa wawancara tersebut berlangsung pada Agustus lalu sebelum Kordahi dipilih menjadi menteri pada bulan September.

Yaman telah dilanda kekerasan dan ketidakstabilan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut sebagian besar wilayah negara itu, termasuk ibu kota Sanaa. Pada tahun 2015, koalisi militer yang dipimpin Saudi melakukan intervensi yang bertujuan mengembalikan pemerintah Yaman.

(ita/ita)