Kasus Kelalaian Boeing 737 MAX Berakhir dengan Ganti Rugi Rp 3,2 T

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 16:16 WIB
FILE - In this April 10, 2019, file photo a Boeing 737 MAX 8 airplane being built for India-based Jet Airways lands following a test flight at Boeing Field in Seattle. Boeing is reassuring airline industry leaders about the safety of the grounded 737 Max as it continues working to get the plane back in service. The aircraft maker invited about 30 union officials, safety experts and others to the Seattle area for two days of meetings with Boeing executives and factory tours. (AP Photo/Ted S. Warren, File)
Ilustrasi -- Boeing 737 MAX (AP Photo/Ted S. Warren, File)
Washington DC -

Para pemegang saham Boeing telah mencapai penyelesaian di luar pengadilan sebesar US$ 225 juta (Rp 3,2 triliun) dengan jajaran direksi dan mantan direksi produsen pesawat itu dalam kasus kelalaian keselamatan Boeing 737 MAX.

Seperti dilansir AFP, Jumat (5/11/2021), para pemegang saham menuduh jajaran direksi dan sejumlah pejabat eksekutif Boeing, juga CEO Boeing saat ini, David Calhoun, gagal memastikan instrumen kontrol dan informasi soal 737 MAX berfungsi secara efektif.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (4/11) waktu setempat, kompensasi itu akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, bukan dewan direksi dan pejabat eksekutif Boeing.

Pihak Boeing juga sepakat untuk mempekerjakan seorang mediator untuk menangani masalah internal dan menunjuk perwakilan direksi dengan pengalaman keselamatan penerbangan. Kesepakatan itu tidak mengharuskan Boeing untuk mengakui adanya kelalaian atas nama pihak yang digugat dalam kasus itu.

Pesawat Boeing 737 MAX terlibat dalam dua kecelakaan maut -- satu di Indonesia pada Oktober 2018 dan satu lagi di Ethiopia pada Maret 2019 -- yang menewaskan total 346 orang. Penyelidikan mengungkapkan bahwa kedua kecelakaan itu berkaitan dengan sistem pencegahan kecelakaan (MCAS).

Pengacara untuk para pemegang saham dan pihak Boeing belum memberikan komentarnya.

Berdasarkan dokumen internal, para pemegang saham mengatakan bahwa prosedur keselamatan yang tepat tidak diterapkan pada 737 MAX setelah kecelakaan tahun 2018, meskipun laporan media mengaitkan insiden itu dengan MCAS.

Dikembangkan tahun 2011 dan diluncurkan tahun 2017, Boeing 737 MAX dilarang terbang sejak Maret 2019 sebelum kembali dinyatakan boleh mengudara kembali pada November 2020.

(nvc/ita)