Sempat Tertinggal, Eks Penerjemah Biden Akhirnya Cabut dari Afghanistan

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 14:22 WIB
President Joe Biden speaks about the end of the war in Afghanistan from the State Dining Room of the White House, Tuesday, Aug. 31, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)
Joe Biden (dok. AP Photo/Evan Vucci)
Kabul -

Seorang penerjemah yang membantu penyelamatan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, saat badai salju tahun 2008 akhirnya meninggalkan Afghanistan. Sang penerjemah sebelumnya gagal naik penerbangan evakuasi dari bandara Kabul dan terpaksa bersembunyi dari kelompok Taliban yang kini berkuasa.

Seperti dilansir AFP, Selasa (12/10/2021), Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi pada Senin (11/10) waktu setempat bahwa penerjemah bernama Aman Khalili dan keluarganya telah meninggalkan Afghanistan.

Setelah menyeberang ke wilayah Pakistan via jalur darat, Khalili dan keluarganya terbang menggunakan pesawat pemerintah AS ke Doha, Qatar. Di sana, dia bergabung dengan ribuan pengungsi lainnya dari Afghanistan yang diproses oleh para pejabat AS untuk imigrasi.

Media terkemuka Wall Street Journal (WSJ) sebelumnya melaporkan bahwa Khalili, istri dan kelima anaknya, meninggalkan Afghanistan dengan bantuan sekelompok warga Afghanistan-Amerika dan kelompok veteran militer AS.

Tahun 2008, Khalili bekerja sebagai penerjemah untuk pasukan militer AS ketika Biden yang masih menjadi Senator AS, bersama dua Senator AS lainnya -- Chuck Hagel dan John Kerry, mengunjungi Afghanistan. Saat itu, badai salju memaksa helikopter yang membawa mereka untuk mendarat di area terpencil.

Di tengah kekhawatiran bahwa Biden dan dua Senator senior AS berisiko diserang Taliban, Khalili bergabung dengan kelompok militer kecil Pasukan Cepat Tanggap yang berkendara dari Pangkalan Udara Bagram ke area pegunungan terpencil untuk menyelamatkan ketiganya.

Namun 13 tahun kemudian, Khaili tidak bisa mendapatkan pengajuannya pindah ke AS diproses tepat waktu dan gagal dievakuasi saat Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

"Halo, Bapak Presiden: Selamatkan saya dan keluarga saya," tuturnya kepada WSJ pada 30 Agustus lalu, yang menjadi hari terakhir proses evakuasi darurat yang berlangsung selama dua pekan di bandara Kabul. "Jangan lupakan saya di sini," imbuhnya.

Simak juga 'Kematian Akibat Covid-19 di AS Melampaui 713.000 Jiwa':

[Gambas:Video 20detik]