Bentrok Houthi Vs Pro Yaman Pecah, 50 Orang Tewas!

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 16:55 WIB
Fighters with forces loyal to Yemens Saudi-backed government hold a position against Huthi rebels in Yemens northeastern province of Marib, on April 6, 2021. - Yemens Iran-backed Huthi rebels have for over a year had their sights on seizing Marib, the capital of an oil-rich region, with the aim of controlling the countrys entire north.
After a period of relative calm, the Huthis launched in February 2021, a fierce offensive to take Marib from the government, which is backed by Saudi-led military coalition that intervened in Yemens civil war in 2015. (Photo by STR / AFP)
Bentrok Houthi Vs Pro Yaman Pecah, 50 Orang Tewas! (Foto: AFP/STR)
Jakarta -

Pertempuran antara pemberontak Houthi dan pasukan pro pemerintah di kota Marib, Yaman, meningkat. Sedikitnya 50 orang dari kedua belah pihak tewas.

"Dalam 48 jam terakhir, 43 pejuang Houthi tewas, sebagian besar dalam serangan udara koalisi di sebelah barat Marib," kata sebuah sumber militer seperti dilansir AFP, Minggu (26/9/2021).

Sumber lainnya mengatakan sedikitnya tujuh pasukan pro pemerintah tewas dalam pertempuran tersebut. Sementara itu, pihak pemberontak jarang mengumumkan korban dari mereka.

Bulan ini saja, ratusan orang tewas setelah pemberontak yang didukung Iran itu memperbarui kampanye mereka untuk Marib, benteng terakhir pemerintah yang terkenal kaya minyak.

Awalnya, Houthi berupaya merebut kota Marib pada Februari lalu. Mereka berharap dapat mengendalikan kota yang vital secara strategis dan kaya akan minyak di Yaman itu.

Perang antara koalisi militer pimpinan Saudi, yang mendukung pemerintah, dan Houthi telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.

Sekitar 80 persen dari 30 juta orang Yaman kini bergantung pada bantuan kemanusiaan. PBB bahkan menyebut konflik Yaman adalah krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Bulan ini tepat menandai tujuh tahun lamanya sejak Houthi menguasai kota Sanaa. Beberapa analis mengatakan banyak orang-orang mulai condong mendukung pemberontak untuk melawan pihak koalisi.

Sementara PBB dan Washington mendorong untuk mengakhiri perang, Houthi telah menuntut pembukaan kembali bandara Sanaa, yang ditutup di bawah blokade Saudi sejak 2016, sebelum ada gencatan senjata atau negosiasi.

Kedua belah pihak sempat terlibat pertemuan di Swedia pada tahun 2018 lalu. Saat itu disepakati pertukaran tahanan massal dan penyelamatan kota Hodeida, di mana pelabuhan berfungsi sebagai jalur kehidupan utama di Yaman.

(izt/dhn)