Pesan Adik Kim Jong-Un ke Korsel: Hentikan Kebijakan Permusuhan!

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 16:29 WIB
FILE - In this March 2, 2019, file photo, Kim Yo Jong, sister of North Koreas leader Kim Jong Un attends a wreath-laying ceremony at Ho Chi Minh Mausoleum in Hanoi, Vietnam. The powerful sister of North Korean leader Kim ripped South Korea for proceeding with military exercises with the United States she claimed are an invasion rehearsal and warned that the North will speed up its efforts to strengthen its pre-emptive strike capabilities. (Jorge Silva/Pool Photo via AP, File)
Kim Yo-Jong, adik pemimpin Korut, Kim Jong-Un (Jorge Silva/Pool Photo via AP, File)
Pyongyang -

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mencetuskan adanya deklarasi resmi atas berakhirnya perang Korea. Menanggapi hal itu, Kim Yo-Jong, adik pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-Un, menuntut Korsel untuk menghentikan 'kebijakan permusuhan' terhadap Korut.

Seperti dilansir AFP, Jumat (24/9/2021), Perang Korea yang terjadi tahun 1950-1953 silam diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai, sehingga secara teknis Korut dan Korsel masih berperang selama lebih dari setengah abad.

Saat berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) awal pekan ini, Presiden Korsel, Moon Jae-In, mengusulkan adanya deklarasi resmi untuk mengakhiri Perang Korea yang terjadi 71 tahun lalu.

Presiden Moon menekankan bahwa langkah itu akan 'memberikan kemajuan yang tidak bisa diubah dalam denuklirisasi dan mengantarkan kepada era perdamaian total'.

Kim Yo-Jong, yang menjadi penasihat kebijakan penting untuk Kim Jong-Un, menanggapi seruan itu dalam pernyataan yang dirilis kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

Dia menyebut seruan Presiden Moon itu sebagai 'gagasan mengagumkan' namun juga menuntut agar Korsel terlebih dulu menghapus perilaku tak bersahabat.

Kim Yo-Jong, menurut KCNA, menyebut bahwa 'tidak masuk akal' jika ditetapkan deklarasi semacam itu namun 'standar ganda, prasangka dan kebijakan tak bersahabat' dari Korsel masih berlaku.

"Agar penghentian perang dideklarasikan, saling menghormati harus dijaga dan sudut pandang penuh prasangka, kebijakan tak bersahabat tak lazim dan standar ganda yang tidak setara harus dihilangkan terlebih dulu," sebut Kim Yo-Jong.