Taliban Bakal Terapkan Lagi Hukuman Potong Tangan, Ini Alasannya

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 10:18 WIB
Usai kuasai Afghanistan, Taliban kini hadapi ancaman serangan Islamic State Khorasan (IS-K). serangan demi serangan pun telah dilakukan IS-K di Afghanistan.
Ilustrasi -- Petempur Taliban (dok. AP Photo)
Kabul -

Salah satu pendiri kelompok Taliban memastikan bahwa hukuman berat sesuai interpretasi kelompok ini soal hukum Islam, seperti eksekusi mati dan potong tangan, akan kembali diberlakukan di Afghanistan. Kelompok ini menuturkan ada alasan tersendiri untuk penerapan hukuman berat tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (24/9/2021), penegasan itu disampaikan oleh Mullah Nooruddin Turabi, yang merupakan salah satu pendiri Taliban dan pernah menjabat kepala penegakan hukum Islam saat Taliban berkuasa di Afghanistan dua dekade lalu.

Turabi yang kini berusia 60-an tahun, menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan memimpin departemen yang disebut Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, atau yang secara efektif merupakan 'polisi syariah' atau 'polisi moral' saat Taliban berkuasa sebelumnya.

Dalam wawancara dengan Associated Press, Turabi memperingatkan dunia untuk tidak mencampuri Taliban yang menjadi penguasa baru Afghanistan. "Tidak ada yang memberitahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan membuat hukum kami berdasarkan Quran," tegasnya.

Di masa lalu, dunia mengecam hukuman berat yang diterapkan Taliban di Afghanistan. Pada saat itu, Taliban melangsungkan hukuman di depan umum seperti di stadion Kabul atau di halaman Masjid Eid Gah, yang dihadiri dan ditonton ratusan orang.

Eksekusi mati terpidana pembunuhan biasanya dilakukan dengan satu tembakan ke kepala, yang dilakukan oleh keluarga korban, yang memiliki opsi menerima 'uang diyat' dan membiarkan pelaku tetap hidup. Untuk terpidana pencurian, hukumannya adalah potong tangan, sedangkan untuk terpidana perampokan di jalanan, hukumannya adalah potong tangan dan kaki.

Persidangan dan penjatuhan vonis jarang dilakukan di depan publik, dengan otoritas kehakiman sangat condong kepada ulama-ulama Islam setempat.

Tonton juga video 'Taliban Bakal Isi Kabinet Pemerintahan dengan Perempuan':

[Gambas:Video 20detik]



Namun kali ini, Turabi menegaskan bahwa para hakim, termasuk hakim wanita, akan mengadili kasus-kasusnya. Pondasi hukum Afghanistan, sebut Turabi, tetap Quran. Dia menegaskan hukuman yang sama akan diterapkan kembali.

Lebih lanjut, Turabi mengungkapkan alasan penerapan kembali hukuman berat sesuai interpretasi Taliban terhadap hukum Islam itu.

"Memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan," cetus Turabi.

Ditegaskan Turabi bahwa hukuman semacam itu memiliki efek jera.

Kendati demikian, Turabi menyatakan bahwa kabinet pemerintahan Taliban masih mempelajari apakah hukuman semacam itu akan dilakukan di depan umum seperti di masa lalu. Turabi juga menyatakan pemerintahan Taliban akan 'mengembangkan sebuah kebijakan' terkait itu.

(nvc/ita)