Pertempuran Militer dan Anti-Junta Memanas, Ribuan Warga Tinggalkan Myanmar

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 08:49 WIB
YANGON, MYANMAR - FEBRUARY 17: Protesters chant solgans and wave flags during an anti-coup protest at Sule Square on February 17, 2021 in downtown Yangon, Myanmar. Armored vehicles continued to be seen on the streets of Myanmars capital, but protesters turned out despite the military presence. The military junta that staged a coup against the elected National League for Democracy (NLD) government moved to keep the countrys de-facto leader Aung San Suu Kyi under house arrest after she was charged with violations of import-export and Covid prevention laws. (Photo by Hkun Lat/Getty Images)
Myanmar telah dilanda kekacauan sejak kudeta militer (Foto: Getty Images/Hkun Lat)
Jakarta -

Ribuan orang telah meninggalkan sebuah kota di Myanmar barat setelah berhari-hari pertempuran antara pembangkang anti-junta dan militer. Warga dan media melaporkan bahwa para tentara Myanmar telah mengebom rumah-rumah warga sipil.

Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak pemerintah Aung San Suu Kyi digulingkan oleh militer pada Februari lalu, memicu pemberontakan nasional yang coba dihancurkan oleh junta militer.

Serangan terhadap pasukan junta meningkat setelah para anggota parlemen yang digulingkan oleh para jenderal menyerukan "perang defensif rakyat" awal bulan ini.

Juru bicara junta Myanmar, Zaw Min Thun mengatakan, para tentara bertempur dengan sekitar 100 anggota kelompok pertahanan lokal setelah "disergap" di kota Thantlang di negara bagian Chin yang terpencil, dekat perbatasan India pada 18 September. Dia tidak memberikan angka korban dalam pertempuran itu.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Kamis (23/9/2021), penduduk mulai melarikan diri pada hari Senin (20/9) setelah tentara "mulai menembak secara acak jendela-jendela rumah di kota itu", menurut seorang warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya.

"Hampir semua orang telah pergi," katanya, seraya menambahkan bahwa dia berlindung di desa terdekat dengan sekitar 500 orang, dan beberapa ratus orang sudah menuju ke India.

Menurut sensus terbaru, Thantlang memiliki populasi sekitar 7.500.

Warga lain mengatakan dia melakukan perjalanan selama tiga hari dengan orang tuanya yang sudah lanjut usia untuk mencapai India setelah tentara mengebom rumahnya dan pertempuran yang meningkat di sekitar kota itu.

"Saya tidak pernah berpikir untuk lari dari rumah saya sendiri bahkan setelah militer mengebomnya... tetapi karena keadaan semakin memburuk... saya akhirnya harus melarikan diri," katanya kepada AFP tanpa menyebut nama.

Simak juga 'Sorotan Jokowi soal Konflik Myanmar Hingga Palestina di Sidang PBB':

[Gambas:Video 20detik]