Korban Pelanggaran HAM di Turki Bersuara di Turkey Tribunal

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 14:44 WIB
Little girl waving Turkish flag on sunny beautiful day
Foto: Ilustrasi bendera Turki (Getty Images/iStockphoto/atakan)
Jenewa -

Panel hakim Pengadilan Turki (Turkey Tribunal) di Swiss mendengarkan kesaksian dua korban penyiksaan dan aktivis HAM. Salah satu korbannya mengaku dipaksa mengklaim diri sebagai anggota partai terlarang.

Seperti dikutip dari laman lembaga HAM, Stockholm Center for Freedom, Rabu (22/9/2021) Turkey Tribunal merupakan sebuah pengadilan internasional simbolis yang dipimpin masyarakat sipil. Pengadilan ini didirikan untuk mengadili pelanggaran HAM di Turki.

Menurut laporan oleh Bünyamin Tekin, para hakim pertama kali mendengar kesaksian Mehmet Alp, seorang guru yang bekerja di sebuah sekolah pemerintah. Dia mengaku diculik oleh badan intelijen Turki MİT di Cizre pada 18 April 2015.

Alp dipaksa menandatangani pernyataan yang menuduhnya mendorong murid-muridnya untuk bergabung dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang. Dia mengatakan dia diancam di bawah todongan senjata untuk menandatangani sebuah dokumen.

Setelah insiden ini, Alp mengatakan dia tidak memberi tahu siapa pun karena takut. Dia dipenjara pada tahun 2016. Saat dia di penjara, kudeta terjadi di Turki pada 15 Juli 2016, yang secara dramatis mengubah iklim politik di negara itu. Pemerintah yang berkuasa melancarkan tindakan keras terhadap lawan politik dengan dalih perjuangan anti-kudeta.

Meskipun Alp berada di penjara pada saat kudeta berlangsung, dia didakwa terlibat dalam kudeta. Dia mengatakan dia mengalami penyiksaan yang menyebabkan pendarahan internal dan ditolak perawatan medisnya.

"Kami tidak hanya menyiksa Anda, kami juga menyiksa istri Anda dan anak-anak Anda akan berakhir di panti asuhan. Jadi jika Anda mencintai keluarga Anda, maka jangan beri tahu pengadilan bahwa Anda disiksa," kata Alp mengutip kata-kata para penyiksanya.

Alp dibebaskan oleh pengadilan sambil menunggu persidangan pada 2018, setelah itu ia melarikan diri ke Eropa untuk mencari suaka.

Selain Alp, ada Erhan Dogan. Dogan adalah seorang guru sejarah yang bekerja di sekolah yang berafiliasi dengan gerakan Gulen.

Dia menyatakan, pemerintahan di Ankara menuduh gerakan Gulen, sebuah kelompok berbasis agama yang diilhami oleh ulama Turki, Fethullah Gulen, berada di balik kudeta Turki yang gagal. Namun, gerakan tersebut menyangkal keterlibatan apapun dengan kudeta atau aktivitas lainnya.

Lihat juga video 'Turki Mulai Sekolah Tatap Muka di Tengah Kekhawatiran Orang Tua':

[Gambas:Video 20detik]