Beda, Filipina Dukung Kapal Selam Nuklir Australia untuk Tangkal China

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 14:15 WIB
In this photo made available by the U.S. Navy, the guided-missile submarine USS Georgia transits the Strait of Hormuz in Persian Gulf, Monday, Dec. 21, 2020. The USS Georgia traversed the strategically vital waterway between Iran and the Arabian Peninsula on Monday, the U.S. Navy said, a rare announcement that comes amid rising tensions with Iran. (Mass Communication Specialist 2nd Class Indra Beaufort/U.S. Navy via AP)
Ilustrasi -- Kapal selam bertenaga nuklir milik AS, USS Georgia (dok. Mass Communication Specialist 2nd Class Indra Beaufort/U.S. Navy via AP)
Manila -

Otoritas Filipina menyatakan dukungan untuk aliansi pertahanan baru antara Australia, Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Diharapkan Filipina agar aliansi itu bisa menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (21/9/2021), dukungan Filipina ini sangat bertolak-belakang dengan beberapa negara tetangganya.

Dikenal sebagai AUKUS, aliansi pertahanan tiga negara itu memampukan Australia untuk mendapatkan teknologi agar mengerahkan kapal selam bertenaga nuklir sebagai bagian dari perjanjian yang dimaksudkan untuk merespons semakin berkembangnya pengaruh China.

"Peningkatan kemampuan sekutu dekat luar negeri dalam memproyeksikan kekuatan seharusnya memulihkan dan menjaga keseimbangan, bukannya mendestabilisasi," sebut Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin, dalam pernyataannya.

Pernyataan Locsin tertanggal 19 September itu berbeda dengan sikap Indonesia dan Malaysia, yang menyatakan kewaspadaan soal rencana keberadaan kapal selam bertenaga nuklir di tengah persaingan negara adidaya di kawasan Asia Tenggara.

Disebutkan Locsin bahwa tanpa kehadiran senjata nuklir yang sebenarnya, kesepakatan dalam aliansi pertahanan itu tidak akan melanggar perjanjian tahun 1995 untuk menjauhkan senjata nuklir dari Asia Tenggara.

Laut China Selatan terus menjadi sumber ketegangan, khususnya dengan AS yang merupakan mitra pertahanan Filipina dan sekutu-sekutu Barat yang secara rutin mempraktikkan 'kebebasan navigasi' di perairan sengketa yang memicu kemarahan China.

Lihat juga video 'PM Inggris: Hubungan Kami dan Prancis Tak Dapat Dihancurkan':

[Gambas:Video 20detik]