Dipulangkan ke Haiti, Migran Marah-marah ke Joe Biden

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 12:30 WIB
Ribuan warga Haiti tinggalkan negara asal untuk menuju AS. Demi bisa tiba di sana, mereka ramai-ramai menyeberangi sungai di perbatasan Meksiko-AS. Ini fotonya.
saat warga Haiti seberangi sungai menuju AS (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat telah memulangkan keluarga-keluarga migran Haiti ke negara mereka yang marak dengan kekerasan geng, setelah mencoba memasuki AS dari Meksiko. Para migran pun melontarkan kemarahan mereka kepada Presiden AS Joe Biden.

Sebelumnya deportasi migran Haiti sempat dihentikan sementara oleh Washington setelah gempa bumi dahsyat melanda negara Karibia itu bulan lalu.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 15.000 warga Haiti menyeberang ke AS dari Meksiko. Mereka pun terdampar selama berhari-hari di Texas di bawah jembatan yang membentang di sungai Rio Grande, terhalang untuk bergerak maju.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (20/9/2021), Washington mulai mengirim kembali anggota kelompok ini pada hari Minggu (19/9) waktu setempat, dengan tiga penerbangan penuh warga negara Haiti mendarat di ibu kota Haiti, Port-au-Prince setelah lepas landas dari Texas beberapa jam sebelumnya.

"(Presiden AS Joe) Biden tahu betul apa yang terjadi, tetapi dia tidak peduli," kata seorang wanita, air mata mengalir di wajahnya saat dia menggambarkan perlakuan yang diterimanya sewaktu berada di fasilitas penahanan migran AS di Texas.

"Dia (Biden) memperlakukan kami, kami dan anak-anak kami, lebih buruk dari binatang," cetusnya.

Migran Haiti lainnya yang dipulangkan, Garry Momplaisir, yang menghabiskan lima hari di fasilitas yang sama, mengatakan bahwa mereka yang ditahan di sana terpaksa tidur di lantai beton di bawah terpal plastik tipis.

Simak juga video 'Ribuan Migran Haiti Menuju AS Lewat Meksiko':

[Gambas:Video 20detik]



"Kami tidak bisa mandi. Ada toilet, tapi tidak ada tempat untuk mandi sendiri," tutur pria berusia 26 tahun itu, yang dideportasi bersama istri dan putri mereka yang berusia lima tahun.

Sebelum tiba di perbatasan AS-Meksiko, beberapa warga Haiti telah beremigrasi ke Chile dan Brasil pada 2016 dan 2017.

"Di Santiago, saya memiliki usaha kecil, suami saya bekerja. Kami dapat menghemat uang -- itulah yang memungkinkan kami melakukan perjalanan ke Amerika Serikat," kata seorang wanita berusia 28 tahun, yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Jeanne.

Dia, suaminya, dan putra mereka yang berusia tiga tahun, Mael, yang memiliki paspor Chile, menghabiskan dua bulan dan uang US$ 9.000 untuk bepergian melalui Amerika Selatan dan Tengah dan Meksiko, dalam perjalanan mereka ke Amerika Serikat. Oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, rute yang dilalui itu disebut sebagai salah satu rute paling berbahaya di dunia.

"Ini hal yang tidak bisa dijelaskan. Tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan kengeriannya," kata Jeanne. "Jika saya tahu apa yang akan saya alami, saya tidak akan pernah melakukan perjalanan itu," ujarnya sambil menangis.

(ita/ita)