AS dan Rusia Cekcok Soal Jumlah Staf Kedutaan Besar

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 09:34 WIB
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin saling bertemu dan disambut Presiden Swiss, Guy Parmelin. Sebelum melakukan pertemuan kecil secara tertutup, Bidan dan Putin menyempatkan diri berjabat tangan.
Momen Biden dan Putin berjabat tangan (Screenshot/Associated Press)
Washington DC -

Amerika Serikat (AS) dan Rusia terlibat cekcok terkait jumlah staf yang diizinkan di Kedutaan Besar (Kedubes) masing-masing. Cekcok ini terjadi setelah kedua negara melakukan pembicaraan yang bertujuan membawa stabilitas dalam hubungan yang bergejolak.

Seperti dilansir AFP, Selasa (3/8/2021), Duta Besar Rusia di Washington DC, Anatoly Antonov, menyesalkan apa yang disebutkan sebagai 'pengusiran' diplomat-diplomat Rusia. Dia menyebut AS telah menjadi semakin 'gigih dan kreatif dalam persoalan ini' dengan secara unik membatasi visa warga Rusia selama 3 tahun.

"Kami menerima daftar 24 diplomat yang diperkirakan akan meninggalkan negara ini sebelum 3 September 2021. Nyaris semuanya akan pergi tanpa pengganti karena Washington secara tiba-tiba memperketat prosedur penerbitan visa," sebut Antonov dalam wawancara dengan majalah AS, The National Interest.

Dalam tanggapannya, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, menyebut pernyataan Dubes Antonov 'tidak akurat'. Ditegaskan Price bahwa para diplomat Rusia menyadari visa mereka akan habis masa berlaku setelah tiga tahun dan mereka bebas untuk mengajukan perpanjangan.

Dia membahas kembali soal keluhan terhadap Rusia yang disebut memaksa AS memberhentikan nyaris 200 warga lokal yang bekerja di misi-misi diplomatik AS di Rusia efektif mulai Minggu (1/8) waktu setempat, karena adanya larangan baru untuk mempekerjakan warga Rusia atau warga negara ketiga sebagai staf.

"Sangat disayangkan karena langkah-langkah ini memiliki dampak negatif terhadap operasional Misi AS untuk Rusia, berpotensi terhadap keselamatan dan keamanan para personel kami, serta kemampuan kami terlibat dalam diplomasi dengan pemerintah Rusia," ucap Price kepada wartawan setempat.

"Saya akan mengatakan bahwa kami berhak untuk mengambil langkah-langkah respons yang tepat terhadap tindakan Rusia," imbuhnya, sembari menyangkal bahwa masa berlaku visa 3 tahun bagi warga Rusia ada kaitannya dengan ini.

Lihat juga video 'Joe Biden Ingatkan Serangan Siber Bisa Berujung Perang Terbuka':

[Gambas:Video 20detik]