3 Orang Tewas Ditembak Saat Demo Kekurangan Air di Iran

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 10:36 WIB
A shot is fired by Canadas Zina Kocher as she competes in the Womens Biathlon 4x6 km Relay at the Laura Cross-Country Ski and Biathlon Center during the Sochi Winter Olympics on February 21, 2014, in Rosa Khutor, near Sochi.  AFP PHOTO / KIRILL KUDRYAVTSEV        (Photo credit should read KIRILL KUDRYAVTSEV/AFP/Getty Images)
ilustrasi (lFoto: AFP)
Teheran -

Sedikitnya tiga orang tewas ditembak dalam kerusuhan dan unjuk rasa memprotes kekurangan air di Provinsi Khuzestan, Iran. Salah satu korban tewas merupakan seorang polisi setempat.

Seperti dilansir Arab News, Kamis (22/7/2021), satu polisi yang tidak disebut namanya itu tewas ditembak di kota pelabuhan Mahshahr, dalam apa yang disebut oleh Gubernur Fereydoun Bandari sebagai 'kerusuhan'.

Di distrik Izeh, Provinsi Khuzestan, Gubernur Hassan Nobovati menuturkan bahwa seorang anak muda ditembak mati oleh 'sejumlah perusuh'. Kemudian sebanyak 14 personel kepolisian setempat mengalami luka-luka.

Sementara otoritas kota Shadegan, yang juga ada di Provinsi Khuzestan, menyatakan seorang demonstran tewas ditembak oleh 'para oportunis dan perusuh'.

"Warga Khuzestan menggelar unjuk rasa pada malam hari, unjuk rasa yang mengakar selama bertahun-tahun," demikian laporan surat kabar setempat yang beraliran reformis, Arman-e Melli.

Video yang diposting secara online menunjukkan unjuk rasa digelar di wilayah Ahvaz, Hamidiyeh, Izeh, Mahshahr, Shadegan dan Susangerd, dengan pasukan keamanan membubarkan para demonstran secara kasar.

Sejumlah video ratusan orang melakukan pawai, meneriakkan slogan anti-rezim pemerintahan, dengan dikelilingi oleh polisi antihuru-hara. Beberapa kali terdengar suara tembakan dari video tersebut.

Surat kabar Etemad yang beraliran reformis melaporkan bahwa tagar 'Saya haus' dalam bahasa Arab yang menjadi trending di media sosial telah menarik perhatian publik pada situasi di Khuzestan. Wilayah Khuzestan banyak ditinggali warga minoritas Sunni yang sejak lama mengeluhkan marginalisasi.

Tahun 2019, provinsi itu menjadi lokasi utama unjuk rasa antipemerintah yang kemudian meluas ke wilayah lainnya di Iran. "Ada tanda-tanda unjuk rasa dan kerusuhan di provinsi itu sejak lama, tapi para pejabatnya, seperti biasa, hanya menunggu hingga menit-menit terakhir untuk menanggapinya," sebut Etemad dalam laporannya.

Pemerintah pusat Iran mengirimkan delegasi para wakil menteri ke Khuzestan pekan lalu untuk mengatasi masalah kekurangan air di wilayah tersebut. Pada Rabu (21/7) waktu setempat, televisi nasional menunjukkan antrean panjang truk air yang disebut dari Korps Garda Revolusi Iran.

Selama bertahun-tahun, gelombang musim panas dan badai pasir musiman telah membuat kering dataran Khuzestan yang sebelumnya subur. Para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim semakin memperburuk kekeringan tersebut.

Presiden Hassan Rouhani pada bulan ini memperingatkan bahwa Iran mengalami kekeringan 'yang belum pernah terjadi sebelumnya', dengan curah hujan rata-rata merosot 52 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

"Saat nyaris 5 juta warga Iran di Khuzestan kekurangan akses pada air minum yang bersih, Iran gagal menghormati, melindungi dan memenuhi hak atas air, yang terkait erat dengan hak untuk standar kesehatan tertinggi," sebut kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran.

(nvc/ita)