Parlemen Inggris Serukan Tindakan Terhadap China Soal Uighur

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 11:26 WIB
Sebuah lembaga think tank Australia melaporkan bahwa otoritas China telah menghancurkan ribuan masjid di Xinjiang dalam beberapa tahun ini.
warga Muslim Uighur di Xinjiang (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Sekelompok anggota parlemen Inggris menyerukan pemerintah untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap China atas perlakuannya terhadap kelompok minoritas. Mereka menyerukan sejumlah tindakan termasuk boikot sebagian Olimpiade Musim Dingin dan larangan perdagangan kapas.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Kamis (8/7/2021), dalam sebuah laporan setelah penyelidikan selama berbulan-bulan, komite urusan luar negeri parlemen merekomendasikan untuk mengeksplorasi kelayakan penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap warga Muslim Uighur dan lainnya di Xinjiang, China.

Komite parlemen Inggris itu juga meminta pemerintah untuk menerima pandangan para anggota parlemen -- dinyatakan dalam pemungutan suara simbolis April lalu -- bahwa kelompok minoritas di sana mengalami genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pemerintah harus mengambil tindakan lebih keras "untuk mengakhiri kejahatan ini".

Kelompok lintas partai tersebut ingin pemerintah Inggris menggunakan setiap cara diplomatik untuk menekan Beijing agar memberikan pengamat internasional - khususnya Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia - akses ke Xinjiang.

Komite juga mendukung proses suaka jalur cepat bagi mereka yang melarikan diri dari penganiayaan di wilayah tersebut, membentuk koalisi "negara suaka" dengan sekutu-sekutu Barat.

"Kita adalah ibu dari semua parlemen. Jika kita tidak bersedia berbicara untuk mereka yang ingin dibungkam oleh orang lain, maka parlemen mana yang akan melakukannya?" kata anggota komite, Alicia Kearns menjelang rilis laporan tersebut.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia percaya setidaknya satu juta orang Uighur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang. Di wilayah itu, otoritas China juga dituduh mensterilkan perempuan secara paksa dan menerapkan kerja paksa.