Taliban: 'Sistem Islam' Satu-satunya Cara Capai Perdamaian Afghanistan

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 16:51 WIB
Taliban Ancam Akhiri Perdamaian Jika Pemerintah Khianati Perjanjian
Ilustrasi (Foto: DW News)
Baghdad -

Kelompok militan Taliban menyebut 'sistem islam' menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri perang dan memastikan hak asasi manusia ditegakkan di Afghanistan. Pernyataan itu disebut sebagai bentuk komitmen Taliban dalam pembicaraan damai terkait Afghanistan.

"Partisipasi kami dalam negosiasi ini menunjukkan bahwa kami sangat terbuka dan percaya untuk menyelesaikan masalah melalui sikap saling pengertian," kata salah satu pendiri dan Wakil Pimpinan Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP, Minggu (20/6/2021).

Menurut Baradar, satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik di Afghanistan adalah dengan membangun sistem Islam. Sistem ini bisa dibangun usai seluruh pasukan asing angkat kaki dari negara tersebut.

"Sebuah sistem Islam adalah solusi terbaik dari semua masalah Afghanistan," imbuhnya.

Baradar juga meyakinkan bahwa hak-hak semua warga Afghanistan termasuk perempuan akan diakomodasi sesuai dengan aturan "agama Islam yang mulia" dan tradisi Afghanistan. Dia turut menyerukan agar para pemuda Afghanistan tidak meninggalkan negara tersebut.

Baradar menekankan bahwa Taliban akan memastikan minoritas, organisasi kemanusiaan dan diplomat tidak akan ketakutan soal apapun.

Selama berbulan-bulan pembicaraan antara para militan dan pemerintah Afghanistan menemui jalan buntu. Kekerasan juga terus meningkat di seluruh negeri usai Amerika Serikat mulai menarik pasukan terakhirnya sejak Mei lalu.

Pernyataan pimpinan Taliban tersebut kian menguatkan kekhawatiran jika Taliban kembali berkuasa, mereka akan menerapkan kembali hukum islam garis keras. Hukum ini sempat melarang anak perempuan bersekolah dan perempuan yang dituduh melakukan kejahatan seperti perzinahan harus dirajam sampai mati di stadion.

Pada bulan Mei lalu, sebuah laporan intelijen AS mengatakan apa yang dicapai terkait hak-hak perempuan selama dua dekade terakhir akan tercabut jika militan kembali berkuasa.

Diketahui usai militer AS perlahan mengurangi pasukannya menjelang tenggat waktu 11 September, Taliban melakukan serangan setiap hari. Serangan dilancarkan terhadap pasukan pemerintah dan 40 distrik di Afghanistan diklaim telah berakhir dikuasai.

Simak juga Video: Ledakan Bom Rakitan di Kabul, Empat Orang Tewas

[Gambas:Video 20detik]



(izt/dhn)