China Tegaskan Tak Akan Tolerir Campur Tangan Asing Soal Taiwan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 13:52 WIB
Pesawat pengebom H-6K milik militer China
pesawat pengebom milik China (Foto: Gao Fudi/chinamil)
Jakarta -

Pemerintah China menegaskan tidak akan mentolerir campur tangan kekuatan asing dalam masalah Taiwan. Beijing menyatakan pihaknya harus membuat tanggapan keras terhadap tindakan "kolusi" seperti itu.

Hal ini disampaikan pemerintah China setelah Taiwan melaporkan penyusupan terbesar pesawat-pesawat militer China ke wilayahnya.

Pemerintah Taiwan menyatakan bahwa 28 pesawat Angkatan Udara China, termasuk pesawat tempur dan pesawat pengebom berkemampuan nuklir, memasuki zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan pada hari Selasa (15/6). Itu adalah penyusupan harian terbesar sejak kementerian Taiwan mulai secara teratur melaporkan kegiatan Angkatan Udara China di ADIZ Taiwan tahun lalu, memecahkan rekor sebelumnya dari 25 pesawat yang dilaporkan pada 12 April.

Seperti diberitakan kantor berita Reuters dan Channel News Asia, Rabu (16/6/2021), insiden itu terjadi setelah para pemimpin Kelompok Tujuh (G7) mengeluarkan pernyataan bersama, yang menegur China atas serangkaian masalah dan menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Dalam konferensi pers, juru bicara Kantor Urusan Taiwan China, Ma Xiaoguang, ditanya apakah aksi militer China itu terkait dengan pernyataan G7. Dia menjawab bahwa pemerintah Taiwan yang harus disalahkan atas ketegangan tersebut. Beijing percaya pemerintah Taiwan bekerja dengan negara-negara asing untuk mencapai kemerdekaan formal.

"Kami tidak akan pernah mentolerir upaya untuk mencari kemerdekaan atau intervensi serampangan dalam masalah Taiwan oleh kekuatan asing, jadi kami perlu membuat tanggapan yang kuat terhadap tindakan kolusi ini," kata Ma.

Taiwan yang diperintah secara demokratis telah mengeluh selama beberapa bulan terakhir tentang misi berulang oleh Angkatan Udara China di dekat pulau itu, yang terkonsentrasi di bagian barat daya zona pertahanan udaranya, di dekat Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan.