Menilik Pemicu Bentrokan Israel di Tanah Palestina

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 11:13 WIB
Palestinians clash with Israeli security forces at the Al Aqsa Mosque compound in Jerusalems Old City Monday, May 10, 2021. Israeli police clashed with Palestinian protesters at a flashpoint Jerusalem holy site on Monday, the latest in a series of confrontations that is pushing the contested city to the brink of eruption. Palestinian medics said at least 180 Palestinians were hurt in the violence at the Al-Aqsa Mosque compound, including 80 who were hospitalized. (AP Photo/Mahmoud Illean)
Saat bentrokan di masjid Al-Aqsa terjadi (Foto: AP/Mahmoud Illean)
Yerusalem -

Bentrokan di Masjid Al-Aqsa dan sejumlah lokasi di Yerusalem membuat situasi Palestina dan Israel memanas hingga jadi sorotan dunia internasional. Insiden tak bisa terelakkan hingga memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Tak hanya bentrokan, serangan udara juga terus dilancarkan, baik dari Israel maupun Hamas. Keduanya sama-sama belum terlihat akan menghentikan serangan.

Lantas apa sebenarnya yang memicu bentrokan di Masjid Al-Aqsa yang memicu kecaman dari banyak pihak? Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Minggu (16/5/2021), berikut rangkumannya:

Bermula dari Sengketa Tanah

Momen bentrokan pada hari-hari terakhir Ramadhan diketahui dipicu oleh permasalahan sengketa tanah pemukiman antara warga Palestina dan Yahudi di Yerusalem Timur. Masalah sengketa tanah sudah terjadi sebelum pembentukan negara Israel, saat sekelompok kecil komunitas Yahudi tinggal di Sheikh Jarrah.

Awal tahun 2021, putusan sebuah pengadilan distrik Yerusalem terkait sengketa tanah di Sheikh Jarrah memicu kemarahan 30 warga Palestina, yang tinggal disana. Putusan itu disebut menguntungkan para pemukim Yahudi.

Menurut gugatan itu, pemukim Yahudi mengklaim keluarga mereka kehilangan tanah itu saat perang yang berujung pembentukan Israel tahun 1948 silam -- konflik yang juga membuat ratusan ribu warga Palestina kehilangan rumah mereka.

Sementara itu, pihak yang digugat, yakni keluarga Palestina, menyediakan bukti bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam. Otoritas Yordania bahkan melakukan intervensi dalam kasus ini, dengan menyediakan dokumen untuk mendukung klaim keluarga Palestina.

Terhadap putusan pengadilan, Palestina berpendapat bahwa undang-undang yang berlaku diskriminatif, yang berarti mereka tidak bisa lagi mengklaim properti mereka di wilayah yang sekarang disebut sebagai Israel.

Pengacara yang mewakili keluarga-keluarga Palestina itu, Hosni Abu Hussein, menuduh para pemukim Yahudi itu melakukan penipuan.

"Pendaftaran tanah atas nama asosiasi permukiman terjadi melalui penipuan, berkolusi dengan komisioner properti publik dan pihak pencatat tanah Israel," ucapnya kepada AFP.

Simak video 'Hancurnya Gedung Kantor Media di Gaza Akibat Serangan Udara Israel':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2