Pakistan Blokir Media Sosial Usai Aksi Demo Anti-Prancis

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 15:39 WIB
Police personnel use teargas shell to disperse supporters of Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) party during a protest against the arrest of their leader as he was demanding the expulsion of the French ambassador over depictions of Prophet Muhammad, in Karachi on April 13, 2021. (Photo by Asif HASSAN / AFP)
aksi prores anti-Prancis di Pakistan diwarnai kerusuhan (Foto: AFP/ASIF HASSAN)
Jakarta -

Pemerintah Pakistan pada hari Jumat (16/4) memerintahkan penutupan media sosial dan platform pesan instan selama berjam-jam, setelah berhari-hari aksi protes anti-Prancis yang diwarnai kerusuhan.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (16/4/2021), dalam pemberitahuan kepada Otoritas Telekomunikasi Pakistan, Kementerian Dalam Negeri meminta "pemblokiran total" atas Twitter, Facebook, Whatsapp, YouTube dan Telegram hingga pukul 15.00 waktu setempat.

Tidak disebutkan alasan untuk pemblokiran tersebut. Namun, ini terjadi sehari setelah warga negara Prancis di Pakistan disarankan oleh kedutaan mereka untuk pergi sementara setelah demonstrasi yang dipimpin oleh sebuah partai Islam, yang melumpuhkan sebagian besar negara dan menyebabkan dua polisi tewas.

Partai politik diketahui sering menggunakan platform media sosial untuk mengumpulkan pendukung.

Ribuan pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan turun ke jalan di berbagai kota di Pakistan untuk melakukan aksi protes setelah pemimpin mereka ditahan pada Selasa (13/4) lalu, menyusul seruannya untuk pengusiran Duta Besar Prancis. Saad Rizvi selaku Ketua Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) ditahan beberapa jam setelah melontarkan seruan itu.

Bentrokan dengan polisi pun tak terhindarkan dan dua polisi dilaporkan tewas. Meriam air, gas air mata dan peluru karet digunakan polisi untuk memukul mundur massa pendukung TLP.

Sebelumnya pada November tahun lalu, para pendukung TLP pernah melumpuhkan ibu kota Islamabad selama tiga hari dengan menggelar serentetan unjuk rasa anti-Prancis.

Selanjutnya
Halaman
1 2