Studi Israel: Vaksin Pfizer Tak Bisa Lawan COVID-19 Varian Afrika Selatan

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 15:57 WIB
FILE - In this Nov. 9, 2020, file photo, a general view of Pfizer Manufacturing Belgium in Puurs, Belgium. Pfizer and BioNTech say theyve won permission Wednesday, Dec. 2, 2020, for emergency use of their COVID-19 vaccine in Britain, the world’s first coronavirus shot that’s backed by rigorous science -- and a major step toward eventually ending the pandemic.(AP Photo/Virginia Mayo, File)
Ilustrasi (Foto: AP/Virginia Mayo)
Jakarta -

Sebuah penelitian yang dilakukan Israel menemukan bahwa virus corona varian Afrika Selatan B1351 tidak mempan meski disuntikkan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech. Meski begitu temuan itu masih perlu ditinjau kembali.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (11/4/2021) studi yang dirilis pada Sabtu (10/4) dilakukan dengan membandingkan hampir 400 orang positif COVID-19 dan telah menerima satu atau dua dosis vaksin, dengan 400 orang lainnya yang divaksin namun tidak terinfeksi COVID-19.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Tel Aviv dan Clacit, penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, sekitar 1 persen varian B1351 Afrika Selatan ditemukan di sejumlah kasus COVID-19 yang diteliti. Lebih lanjut, bagi yang telah menerima dua dosis vaksin, tingkat prevalensi varian Afrika Selatan delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi - 5,4 persen berbanding 0,7 persen.

"Ini menunjukkan vaksin itu kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus COVID-19 di Israel," kata para peneliti.

"Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian Afrika Selatan di antara orang yang divaksinasi dengan dosis kedua, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi. Ini berarti varian Afrika Selatan dapat menembus perlindungan vaksin sampai batas tertentu," kata Adi Stern dari Universitas Tel Aviv.

Meski begitu, para peneliti memperingatkan bahwa hasil tersebut tidak bisa menjadi patokan karena hanya dilakukan dengan sampel yang terbatas.

Mereka juga mengatakan penelitian itu tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan keefektifan vaksin secara keseluruhan terhadap varian apa pun, karena hanya melihat orang yang sudah dites positif COVID-19, bukan pada tingkat infeksi secara keseluruhan.

Mengenai temuan itu, Pfizer dan BioNTech belum bisa dimintai keterangan.

Pada 1 April lalu, perusahaan itu mengatakan vaksin mereka sekitar 91 persen efektif untuk mencegah COVID-19, mengutip data uji coba terbaru yang menyertakan peserta yang diinokulasi hingga enam bulan.

Hampir 53 persen dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima dua dosis vaksin Pfizer. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel telah membuka kembali sebagian besar kegiatan ekonominya, sementara tingkat infeksi menurun tajam.

Simak juga 'Pfizer Umumkan Vaksinnya Aman dan Efektif pada Anak Usia 12 Tahun':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/dhn)