Kapal Perang China Merapat, Laut China Selatan Makin Memanas

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 14:03 WIB
In this March 7, 2021, photo provided by the Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea, some of the 220 Chinese vessels are seen moored at Whitsun Reef, South China Sea. The Philippine government expressed concern after spotting more than 200 Chinese fishing vessels it believed were crewed by militias at a reef claimed by both countries in the South China Sea, but it did not immediately lodge a protest. (Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea via AP)
220 Kapal AL China Ini Bikin Filipina Geram (Foto: Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea via AP)
Jakarta -

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) dan Filipina berbincang untuk membahas terkait kerja sama pertahanan antar kedua negara dan soal keberadaan kapal milisi China di Laut China Selatan baru-baru ini.

Seperti dilansir The Associated Press, Minggu (11/4/2021) Lloyd Austin berbincang melalui telepon dengan Delfin Lorenzana saat Austin terbang dari Washington ke Israel untuk memulai perjalanan internasional.

Sekretaris pers Pentagon John Kirby mengatakan Austin dan Lorenzana membahas situasi di Laut China Selatan dan keberadaan sejumlah kapal China yang baru-baru ini berada di Whitsun Reef, yang menuai kecaman dari Filipina.

Sementara itu, China mengklaim keberadaan kapal-kapalnya untuk menangkap ikan.

Dalam panggilan telepon mereka, Austin mengusulkan kepada Lorenzana beberapa langkah untuk memperdalam kerja sama pertahanan, termasuk dengan "meningkatkan kesadaran situasional dari ancaman di Laut Cina Selatan".

Kirby mengatakan awal pekan ini bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt, serta kapal amfibi USS Makin Island, akan beroperasi di Laut Cina Selatan.

Diketahui, AS tidak memiliki pasukan militer yang berbasis secara permanen di Filipina tetapi terkadang merotasi pasukan ke negara tersebut berdasarkan Perjanjian antar kedua negara.

Kehadiran kapal-kapal China baru-baru ini di dekat Filipina menjadi salah satu tindakan yang memicu kritik dari Amerika Serikat, dimana AS menuduh China mengintimidasi negara-negara kecil di kawasan Laut China Selatan.

Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, China, dan Vietnam memiliki klaim teritorial yang bersaing di Laut China Selatan, yang merupakan rute perdagangan tahunan senilai US$ 3,4 triliun.

Simak juga 'Momen Saat Jokowi Berharap Laut China Selatan Damai':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/dhn)