Panggil Dubes, Turki Minta PM Italia Cabut Komentar Erdogan 'Diktator'

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 13:10 WIB
Italys new prime minister, former European Central Bank President Mario Draghi addresses the media on February 12, 2021 following a meeting with Italys President at the Quirinale presidential palace in Rome. - The 73-year-old economist formed a new national unity government to replace Giuseppe Contes centre-left coalition, which collapsed one month ago, leaving the country rudderless in an unprecedented crisis. (Photo by YARA NARDI / POOL / AFP)
PM Italia, Mario Drgahi (dok. AFP/YARA NARDI/POOL)

Situasi itu menuai banyak kritikan, terutama yang ditujukan pada Turki sebagai tuan rumah pertemuan tersebut. Dalam komentar kepada wartawan, Cavusoglu menegaskan bahwa otoritas Turki telah memenuhi semua persyaratan protokol yang diminta pihak Uni Eropa terkait pertemuan itu.

PM Draghi dalam komentarnya mengecam Turki dan Erdogan terkait situasi tersebut. Dia bahkan menyebutnya sebagai penghinaan untuk Von der Leyen.

"Saya sangat tidak setuju dengan perilaku Erdogan. Saya meyakini itu bukan perilaku yang pantas. Saya sangat menyesali penghinaan yang dialami oleh Von der Leyen," ucapnya.

"Begini pertimbangan yang harus kita buat terkait situasi ini -- mari kita panggil mereka apa adanya -- para diktator, yang bagaimanapun kita perlu bekerja sama dengan mereka, adalah kita harus jujur dalam menyampaikan pandangan, perilaku dan visi masyarakat yang beragam, tapi kita juga perlu bersiap untuk bekerja sama demi memastikan kepentingan negara kita. Kita perlu menemukan keseimbangan yang benar," cetus PM Draghi.

Cavusoglu telah mengecam komentar PM Draghi tersebut. "Kami mengecam dengan keras pernyataan tidak bisa diterima dari PM Italia terhadap presiden terpilih kami, cabut komentar lancang itu," ujarnya via Twitter.

Dalam pernyataannya, Kaymakci juga menuturkan bahwa Dubes Gaiani juga diberitahu bahwa komentar soal pengaturan tempat duduk itu tanpa mengetahui protokol yang berlaku 'tidak bisa diterima'.

Lebih lanjut, Kaymakci menambahkan bahwa Turki tidak akan memihak dalam pertikaian tak berarti dengan Uni Eropa dan menyatakan upaya menyabotase perkembangan positif antara Turki dan Uni Eropa sebagai hal 'tidak berguna'.

Halaman

(nvc/ita)