Pertama Kali di AS, Pria Muslim Ditunjuk Jadi Calon Hakim Federal

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 12:07 WIB
President Joe Biden speaks about the shooting in Boulder, Colo., Tuesday, March 23, 2021, in the State Dining Room of the White House in Washington. (AP Photo/Patrick Semansky)
Presiden AS, Joe Biden (Foto: AP/Patrick Semansky)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, tengah berupaya mendorong keberagaman dalam sistem pengadilan di negaranya. Biden baru saja menominasikan beberapa wanita kulit hitam, seorang warga Asia-Amerika dan seorang Muslim untuk menjadi hakim federal di beberapa wilayah AS.

Seperti dilansir AFP, Rabu (31/3/2021), keputusan Biden tersebut bertentangan dengan pendahulunya, Donald Trump, yang menetapkan para staf pengadilan federal yang didominasi pria kulit putih. Biden menunjuk 11 pilihan pertamanya untuk jabatan hakim federal, dengan hanya dua dari mereka berjenis kelamin laki-laki dan keduanya tidak berkulit putih.

Dalam daftar teratas, Biden mencalonkan Hakim Ketanji Brown Jackson, keturunan Afrika-Amerika, menjadi hakim federal pada Pengadilan Banding AS untuk Distrik Columbia, yang dikenal menangani kasus-kasus besar.

Jika dikonfirmasi oleh Senat, pria berusia 50 tahun itu akan menggantikan Merrick Garland - yang sekarang menjadi Jaksa Agung Biden - dan berada dalam posisi yang cocok untuk menjadi calon hakim agung di Mahkamah Agung jika ada lowongan tersedia.

Hingga saat ini, belum ada wanita kulit hitam yang bergabung dengan lembaga peradilan tertinggi di AS yang beranggotakan sembilan hakim agung itu.

"Ketanji Jackson Brown adalah salah satu hakim terbaik di negara ini. Cemerlang dan dengan nilai-nilai yang dalam. Dengan dia sekarang bergabung dengan pengadilan tertinggi kedua kita adalah hal yang pantas dan luar biasa," sebut Neal Katyal, mantan penjabat jaksa agung AS di Departemen Kehakiman.

Biden menominasikan dua wanita Afrika-Amerika lainnya untuk posisi hakim federal di pengadilan banding lainnya.

Di antara mereka yang ditunjuk untuk bertugas di pengadilan distrik federal, dua orang lainnya adalah keturunan Afrika-Amerika (salah satunya laki-laki), dua orang keturunan Asia-Amerika, satu orang keturunan Hispanik dan dua wanita kulit putih.