Lagi, Beijing Dilanda Badai Pasir Berbahaya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 28 Mar 2021 14:00 WIB
Cars are driven along a street amid a sandstorm during the morning rush hour in Beijing, Monday, March 15, 2021. The sandstorm brought a tinted haze to Beijings skies and sent air quality indices soaring on Monday. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Badai Pasir kembali melanda Beijing (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)
Beijing -

Ibu kota China, Beijing, kembali diselimuti debu tebal yang membawa partikel berbahaya tingkat tinggi, usai badai pasir kedua dalam dua minggu melanda kota itu. Badai diketahui terjadi akibat angin dari Mongolia dan China Barat Laut yang dilanda kekeringan.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (28/3/2021) diketahui jarak pandang di Beijing berkurang drastis, dimana puncak beberapa gedung pencakar langit tertutup oleh badai pasir, dan para pejalan kaki terpaksa menutupi mata mereka agar tidak terkena debu.

Indeks kualitas udara Beijing mencapai level maksimum 500 pada Minggu pagi waktu setempat, dengan partikel mengambang yang dikenal sebagai PM10 melampaui 2.000 mikrogram per meter kubik di beberapa distrik.

Sementara, partikel PM2.5 yang lebih kecil tercatat berada di atas 300 mikrogram per meter kubik, jauh lebih tinggi dari standar China yaitu 35 mikrogram.

Partikel PM2.5 sangat berbahaya karena sangat kecil dan dapat masuk ke aliran darah, sedangkan PM10 adalah partikel yang lebih besar yang dapat masuk ke paru-paru.

Administrasi Meteorologi China mengeluarkan peringatan pada hari Jumat (26/3), memperingatkan bahwa badai pasir menyebar dari Mongolia ke provinsi China utara termasuk Mongolia Dalam, Shanxi, Liaoning dan Hebei, yang mengelilingi Beijing.

Kantor meteorologi mengatakan badai pasir baru-baru ini yang melanda Beijing berasal dari Mongolia, di mana suhu yang relatif lebih hangat pada musim semi dan berkurangnya curah hujan mengakibatkan lebih banyak area tanah kosong, menciptakan kondisi yang menyebabkan terjadinya badai pasir.

"Beijing mungkin menghadapi lebih banyak badai pasir pada bulan April karena cuaca yang tidak menguntungkan tahun ini," kata pernyataan Kantor Meteorologi.