200 Demonstran di Myanmar Diamankan, PBB Desak Polisi Izinkan Massa Pulang

Isal Mawardi - detikNews
Selasa, 09 Mar 2021 01:56 WIB
Aksi tolak kudeta militer masih berlangsung di Myanmar. Para demonstran antikudeta pun kembali turun ke jalan menyusul seruan serikat pekerja untuk mogok massal
Demonstrasi antikudeta di Myanmar (Foto: AP Photo)
Naypyidaw -

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut ratusan demonstran di Yangon, diamankan petugas keamanan Myanmar. PBB prihatin dengan kondisi tersebut.

"Kami sangat prihatin tentang nasib sekitar 200 pengunjuk rasa damai - termasuk wanita - yang telah dikepung oleh pasukan keamanan di Yangon," pernyataan PBB dalam sebuah cuitan yang dilansir AFP, Selasa (9/3/2021).

PBB khawatir demonstran yang diamankan berisiko akan dianiaya. "Kami mendesak polisi untuk segera mengizinkan mereka pergi dengan selamat dan tanpa pembalasan," pernyataan PBB.

Juru bicara kantor hak asasi PBB Liz Throssell mengatakan sekitar 200 demonstran dilarang meninggalkan area-area tertentu. Pengunjuk rasa dikepung di empat jalan utama di daerah Sanchaung di Yangon.

"Daerah itu dikelilingi oleh kontingen besar militer dan ada kekhawatiran bahwa ketika jam malam tiba, pasukan keamanan akan bergerak untuk menangkap semua orang," kata Liz kepada AFP melalui email.

"Militer telah mengumumkan 'sensus malam hari di daerah itu', dan kelompok masyarakat sipil khawatir tentang apa yang mungkin terjadi," lanjutnya.

Aksi tolak kudeta militer masih berlangsung di Myanmar. Para demonstran antikudeta pun kembali turun ke jalan menyusul seruan serikat pekerja untuk mogok massalAksi tolak kudeta militer masih berlangsung di Myanmar. Para demonstran antikudeta pun kembali turun ke jalan menyusul seruan serikat pekerja untuk mogok massal. (Foto: AP Photo)

Liz khawatir militer akan bergerak dari rumah ke rumah untuk menangkap warga. Sejumlah demonstran berdatangan ke daerah Sanchaung mendesak militer untuk mengizinkan 200 orang yang diamankan, pulang.

Liz melaporkan mulai terdengar tembakan pada pukul 22.00 waktu setempat. "Polisi mulai menembak dan melakukan penangkapan. Tidak jelas apakah mereka menangkap pengunjuk rasa yang terperangkap atau demonstran yang baru tiba," ungkap Liz.

PBB mengutuk aksi petugas keamanan Myanmar menembak mati 3 pengunjuk rasa pada Senin (8/3). Negara Myanmar semakin mencekam sejak kudeta militer menggulingkan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

Hal ini memicu serangkaian protes terhadap junta militer. Polisi serta militer Myanmar merespons dan menyerang pada pengunjuk rasa. Lebih 50 orang tewas dan hampir 1800 ditangkap.

(isa/isa)