Ada Ancaman Penyerbuan Gedung Capitol, Polisi AS Tingkatkan Keamanan

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 10:03 WIB
House of Representatives (HOR) atau DPR AS mulai mempertimbangkan pemakzulan kedua Donald Trump. Ia secara resmi dituduh menghasut pemberontakan dan penyerbuan para pendukungnya di gedung parlemen, Capitol Hill, Rabu (6/1/2021) lalu.
Ilustrasi (dok. AP Photo)

Ancaman terbaru terhadap Gedung Capitol ini terjadi selang dua bulan setelah pada 6 Januari lalu, para pendukung Trump termasuk juga pengikut QAnon menyerbu Gedung Capitol dan memicu kerusuhan. Sedikitnya lima orang, termasuk seorang polisi AS, tewas dalam insiden itu.

Usai muncul laporan intelijen itu, pelaksana tugas (Plt) Sergeant at Arms pada DPR AS, Timothy Blodgett, merilis memo kepada seluruh anggota Kongres AS yang isinya memperingatkan mereka soal potensi unjuk rasa sekitar 4 Maret. Meskipun dalam memo disebutkan bahwa potensi kerusuhan tidak diantisipasi.

Namun Biro Penyelidikan Federal (FBI) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri menganggap ancaman itu cukup serius dan merilis peringatan via buletin gabungan pada Selasa (2/3) malam waktu setempat yang menyebut adanya potensi kerusuhan pada 4 dan 6 Maret.

Sebagai antisipasi, Garda Nasional akan terus disiagakan di sekitar Gedung Capitol.

FBI juga menyatakan bahwa kasus ekstremisme domestik meningkat cukup substansial dalam beberapa tahun terakhir, khususnya dari kelompok atau individu yang mendukung supremasi kulit putih.

"Kami memperkirakan ekstremis sarat kekerasan yang bermotif ras atau etnis, ekstremis antipemerintah atau anti-aparat, dan ekstremis domestik lainnya yang mengutip keluhan politik partisan yang kemungkinan besar memberikan ancaman terorisme domestik terbesar pada tahun 2021 dan kemungkinan hingga tahun 2022," sebut Asisten Direktur Kontraterorisme FBI, Jill Sanborn.

Halaman

(nvc/ita)