Pemimpin Hizbullah Bantah Terlibat Penembakan Aktivis Lokman Slim

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 11:06 WIB
Pemimpin Hizbullah tuduh Arab Saudi mendeklarasikan perang terhadap Lebanon
Pemimpin Hizbullah (Foto: BBC World)
Beirut -

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyed Hassan Nasrallah, menepis tuduhan adanya keterkaitan antara kelompoknya dengan pembunuhan peneliti dan aktivis yang bernama Lokman Slim.

"Adakah kejadian yang terjadi di daerah Anda, kemudian Anda dituduh, sampai terbukti sebaliknya? Apakah ini sesuatu yang dipraktikkan di seluruh dunia? Ke mana lagi logika ini?" kata Nasrallah dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Rabu (17/2/2021).

Aktivis Lokman Slim ditembak dan ditemukan tewas di dalam mobilnya di Lebanon Selatan pada awal Februari lalu. Kasus ini menandai pembunuhan pertama seorang aktivis terkenal dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, Hizbullah telah mengutuk pembunuhan itu.

Slim merupakan kritikus kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kakaknya mengatakan Slim dibunuh karena kritik yang dilontarkannya.

"Dia punya pendirian politik, karena alasan apa lagi dia diculik," kata Rasha al-Ameer kepada AFP.

Seorang pembuat film dan penerbit buku itu kerap menentang apa yang dia sebut sebagai taktik intimidasi Hizbullah dan upaya untuk memonopoli politik Lebanon.

Slim sering dikritik oleh para pendukung Hizbullah karena dianggap dimanfaatkan oleh Amerika Serikat.

Aktivis intelektual sekuler dan pro-demokrasi itu juga membuat beberapa film dokumenter bersama istrinya, Monika Borgmann, yang sempat mengabarkan di media sosial soal hilangnya sang suami.

Nasrallah juga mengkritik atas tuduhan yang ditujukan pada kelompok itu atas keterlibatan dalam ledakan 4 Agustus di Beirut yang menewaskan 200 orang.

Penyelidikan yudisial atas ledakan di Beirut itu masih berlangsung. Hakim Fadi Sawan mendakwa Perdana Menteri Hassan Diab, yang kabinetnya mundur setelah ledakan itu, dan tiga mantan menteri atas tuduhan kelalaian.

Sawan akan menginterogasi salah satu dari tiga mantan menteri, Youssef Finianos, sekutu Hizbullah yang diberi sanksi oleh Amerika Serikat atas hubungannya dengan kelompok yang dianggap Washington sebagai teroris.

"Informasi kami mengatakan bahwa penyelidikan teknis telah berakhir dan militer mengirimkannya kepada hakim ... kami meminta militer dan pihak keamanan dalam negeri untuk mengungkapkan hasil penyelidikan.. kami mengulangi seruan kami untuk ini dan kami bersikeras di atasnya."

Ledakan itu menjadi salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah. Hal itu menambah ketegangan di negara yang terlibat perang saudara sejak 1975-1990 itu. Diketahui ledakan disebabkan oleh amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman selama bertahun-tahun.

(izt/nvc)