Keluarga Korban Penembakan di Wina Tuntut Pemerintah Austria Beri Kompensasi

Ibnu Hariyanto - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 04:16 WIB
Police officers stay in position during an operation, in Vienna, Austria, Tuesday, Nov. 3, 2020. Police in the Austrian capital said several shots were fired shortly after 8 p.m. local time on Tuesday, Nov. 2, in a lively street in the city center of Vienna and that there were six different shooting locations. Austrias top security official said authorities believe there were several gunmen involved and that a police operation was still ongoing. (Photo/Ronald Zak)
Suasana lokasi penembakan butral di Wina pada November 2020 (Foto: AP/Ronald Zak)
Jakarta -

Keluarga dari dua korban serangan jihadis di pusat kota Wina menuntut pemerintah Austria memberikan kompensasi karena kegagalannya mencegah serangan teror itu. Serangan penembakan yang terjadi pada November 2020 itu dilakukan oleh ISIS.

Dilansir AFP, Selasa (16/2/2021), simpatisan ISIS, Kujtim Fejzulai, membunuh empat orang sebelum ditembak mati oleh polisi dalam serangan besar pertama di Austria selama beberapa dekade dan yang pertama dituduhkan pada seorang jihadis. Ibu dari salah satu korban yang merupakan pelajar dari Jerman berusia 24 tahun dalam penembakan itu menuntut kompensasi.

"Pemerintah Austria tidak melakukan segala daya mereka untuk mencegah serangan semacam itu," kata pengacara Norbert Wess kepada AFP.

Berdasarkan laporan independen yang diperintahkan secara resmi atas kegagalan keamanan menjelang serangan itu baru-baru ini memperoleh temuan. Bahwa ada beberapa peluang yang terlewatkan untuk bertindak berdasarkan tanda-tanda peringatan serangan teror oleh Fejzulai itu.

Keluarga korban sebenarnya telah ditawari total 5.800 euro ($ 7.025) sebagai kompensasi dan bantuan untuk biaya pemakaman. Namun, Wess mengatakan jumlah itu bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya pengangkutan jenazah ke Jerman.

Dalam naskah gugatan itu mengatakan bahwa ibu korban "harus dirawat karena depresi ... dan minum obat setiap hari", serta tidak fit untuk bekerja. Gugatan itu menuntut total lebih dari 104.000 euro untuk mencerminkan trauma yang diderita keluarga dan tingginya biaya pemakaman.

Selain itu, keluarga tersebut merasa diperlakukan karena ketidakpekaan otoritas Austria setelah serangan itu. Tak hanya itu, untuk menerima kompensasi, saudara perempuan korban harus "membuktikan, melalui foto dan sarana serupa, bahwa ada ikatan emosional yang erat dengan korban".

Wess menilai pihak berwenang mungkin dapat menerapkan pendekatan yang lebih akomodatif. Ia menyebut keharusan memberikan bukti hubungan itu "sangat membebani saudara perempuan korban".

Selain itu, pengacara dari orang tua dari korban lainnya mengaku kepada kepada AFP juga mengajukan gugatan menuntut kompensasi. Gugatan menuntut kompensasi itu diajukan dengan alasan yang sama.

"Kami akan menuntut kompensasi atas kesedihan, keterkejutan dan biaya pemakaman," kata Mathias Burger kepada AFP.

Burger mengatakan ada kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi serangan yang dilakukan Fejzulai. Burger mengatakan telah terjadi pengabaian berat dari pihak berwenang.

Dia mengatakan tuntutan tersebut sebesar 30.000 euro untuk setiap orang tua, ditambah biaya pemakaman dan kompensasi tambahan untuk ibu korban. Ibu korban digambarkan mengalami "trauma berat".

"Kami berharap bisa menyelesaikan ini tanpa melalui persidangan," ujarnya.

Beberapa korban luka lainnya juga mengajukan gugatan untuk pertanggungjawaban resmi karena gagal mencegah serangan itu. Mereka juga menuntut kompensasi yang lebih murah hati.

(ibh/ibh)