Round Up

Pesawat Pengebom Nuklir AS Pamer Kekuatan di Timur Tengah

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 06:45 WIB
pesawat pengebom as
Pesawat Pengebom AS mengudara di Timur Tengah (Foto: AP)

Sejak tahun 2019, Iran menangguhkan kepatuhannya pada batasan-batasan yang ditetapkan JCPOA sebagai respons atas penerapan kembali sanksi-sanksi AS. Namun beberapa waktu terakhir, pemerintah Iran mengisyaratkan kesiapan untuk kembali berkomunikasi dengan AS di bawah Biden, yang telah mengutarakan kesediaan kembali berdiplomasi dengan Iran.

"Pemerintahan baru di Washington memiliki pilihan fundamental untuk diambil," cetus Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, yang menjadi salah satu penyusun kesepakatan nuklir tahun 2015.

Zarif menyatakan bahwa pemerintahan Biden 'bisa merangkul kebijakan yang gagal dari pemerintahan Trump' atau 'bisa memilih jalan yang lebih baik dengan mengakhiri kebijakan 'tekanan maksimum' Trump yang gagal dan kembali ke kesepakatan yang ditinggalkan pendahulunya'.

"Tapi jika Washington sebaliknya bersikeras untuk menarik konsesi, maka peluang ini akan hilang," imbuhnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) pilihan Biden, Anthony Blinken, dalam sidang penetapan Senat AS pekan ini menyebut kebijakan Trump membuat Iran 'lebih berbahaya'. Blinken mengonfirmasi keinginan Biden agar AS kembali bergabung kesepakatan nuklir Iran, namun menegaskan semuanya bergantung pada Iran untuk kembali menjaga kepatuhan ketat dengan komitmennya.

Tapi Iran bersikeras bahwa AS harus terlebih dulu mencabut semua sanksi dan kembali pada kewajiban yang diatur kesepakatan nuklir itu.

"Pemerintahan Biden yang akan datang masih bisa menyelamatkan kesepakatan nuklir, tapi hanya jika mereka dapat mengumpulkan kemauan politik yang tulus di Washington untuk menunjukkan bahwa Amerika Serikat siap menjadi mitra nyata dalam upaya kolektif," tegas Zarif.

"Pemerintah harus memulai dengan menghapus tanpa syarat, dengan efek penuh, seluruh sanksi yang diberlakukan, yang diterapkan kembali, atau yang diberi label ulang sejak Trump menjabat. Pada gilirannya, Iran akan membalikkan semua langkah yang diambilnya setelah penarikan Trump dari kesepakatan nuklir," cetusnya.

Terakhir, Zarif menambahkan bahwa Iran tidak akan melakukan perundingan lebih lanjut. "Iran mengingatkan kesepakatan nuklir yang telah dibuatnya. Jangan minta Teheran untuk memenuhi tuntutan baru," tandasnya.


(izt/ita)