Pamer Kekuatan, Pesawat Pengebom AS Mengudara di Timur Tengah

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 12:52 WIB
B-52 Stratofortress – The first versions of this long-range heavy bomber flew in 1954. A total of 744 were built, the last of those in 1962. The Air Force maintains 58 B-52s in the active force and 18 in the Reserve. A single B-52 can carry 70,000 pounds of mixed munitions, including bombs, missiles and mines. The eight-engine jets have a range of 8,800 miles. (Master Sgt Greg Steele/US Air Force)
Ilustrasi (dok. Master Sgt Greg Steele/US Air Force)
Washington DC -

Sebuah pesawat pengebom B-52 milik Amerika Serikat (AS) mengudara di atas kawasan Timur Tengah. Hal ini menjadi aksi pamer kekuatan oleh pemerintahan baru Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang bersiap untuk hubungan penuh tantangan dengan Iran.

Seperti dilansir AFP, Kamis (28/1/2021), pesawat pengebom B-52H Stratofortress yang berkemampuan nuklir, mengudara dalam misi pulang-pergi dari Pangkalan Udara Barksdale di Louisiana, AS, pada Rabu (27/1) waktu setempat.

Pesawat pengebom AS itu ditemani pada waktu yang berbeda oleh jet-jet tempur AS dan pesawat pengisi bahan bakar, serta oleh jet tempur F-15 milik Angkatan Udara Arab Saudi.

Misi semacam ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan sepanjang tahun ini. Dua misi pertama dilakukan di bawah era pemerintahan Presiden Donald Trump, untuk menegaskan ancaman terhadap Iran.

Sementara Biden, yang menjabat Presiden AS pada 20 Januari lalu, telah mengisyaratkan kesiapan untuk mencairkan hubungan dengan Iran. Namun, misi pesawat pengebom AS yang mengudara di atas wilayah Timur Tengah ini menunjukkan kebijakan strategis AS tidak berubah.

"Misi pertahanan jarak jauh dan berdurasi pendek ini dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan militer AS dalam mengerahkan kekuatan udara di mana saja di dunia untuk menangkal potensi agresi dan menunjukkan komitmen AS pada keamanan kawasan," tegas Komando Pusat AS (Centcom) dalam pernyataannya.

"Centcom berkomitmen pada keamanan mitra dan menjaga stabilitas kawasan," tandasnya.

(nvc/ita)