International Updates

Biden Bicara Soal Rasisme AS, Israel Susun Rencana untuk Lawan Nuklir Iran

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 18:36 WIB
President-elect Joe Biden speaks after the Electoral College formally elected him as president, Monday, Dec. 14, 2020, at The Queen theater in Wilmington, Del. (AP Photo/Patrick Semansky)
Presiden AS Joe Biden (Foto: AP Photo/Patrick Semansky)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengeluarkan seruan tegas untuk menyembuhkan perpecahan rasial di negeri itu dan berjanji untuk berbuat lebih banyak guna menghadapi rasisme dan ketidaksetaraan, yang menurutnya telah melanda Amerika Serikat terlalu lama.

Ketegangan rasial membara selama empat tahun masa kepresidenan Donald Trump, dan Biden mencatat bahwa pengepungan gedung Capitol AS pada 6 Januari oleh para pendukung Trump dilakukan oleh "preman, pemberontak, ekstremis politik dan supremasi kulit putih". Tetapi Biden mengatakan dia yakin sebagian besar orang Amerika percaya pada kesetaraan.

"Kita tidak pernah sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip dasar bangsa ini - menyatakan yang sudah jelas - bahwa semua orang diciptakan setara dan memiliki hak untuk diperlakukan sama sepanjang hidup mereka," kata Biden dalam pidatonya di Gedung Putih, Selasa (26/1) waktu setempat.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Rabu (27/1/2021):

- Calon Menteri Perdagangan AS Janji Akan Sangat Agresif terhadap China

Gina Raimondo, yang dicalonkan sebagai Menteri Perdagangan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, berjanji akan bersikap keras terhadap China karena praktik perdagangan "anti-persaingannya".

Hal itu disampaikannya dalam sidang konfirmasi Senat atas pencalonannya, Selasa (26/1) waktu setempat.

"Jika saya dikonfirmasi, saya berencana untuk menjadi sangat agresif, untuk membantu Amerika bersaing melawan praktik tidak adil China," kata Raimondo kepada para anggota Senat seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (27/1/2021).

- Ini Kata China Soal Latihan Militernya di Dekat Taiwan

Pemerintah China angkat bicara mengenai latihan militernya di dekat wilayah Taiwan. Pemerintah Beijing menyebut latihan itu adalah "peringatan serius bagi pasukan eksternal". Hal ini disampaikan Beijing hari Rabu (27/1) setelah pemerintah baru Amerika Serikat menyatakan dukungan kuat untuk pulau yang berpemerintahan sendiri itu.

China selama ini memandang Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya, yang suatu hari harus dipersatukan kembali, bahkan dengan kekerasan jika perlu.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada akhir pekan, bahwa komitmen AS untuk Taiwan "sangat kuat". Hal ini disampaikan seiring Taiwan melaporkan beberapa jet tempur dan pesawat pembom China telah terbang ke zona pertahanan udaranya.

- Ledakan di Riyadh Terjadi 3 Hari Setelah Saudi Cegat Proyektil Houthi

Pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab ledakan keras yang mengguncang Riyadh pada Selasa (26/1). Ledakan itu terjadi tiga hari setelah kerajaan tersebut mencegat proyektil yang ditembakkan di atas ibu kota Saudi tersebut.

Selanjutnya
Halaman
1 2