Round-Up

5 Gebrakan Joe Biden Sesaat Usai Pelantikan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 22:12 WIB
Presiden Joe Biden Bawa AS Bergabung Lagi dengan Perjanjian Iklim Paris
Foto: Presiden Amerika Serikat, Joe Biden (DW News)
Jakarta -

Amerika Serikat resmi memiliki pemimpin baru, Joe Biden. Kurang dari 1 x 24 jam pasca-dilantik, Joe Biden langsung menggunakan kewenangannya untuk menyikapi beberapa hal yang diwariskan pendahulunya, Donald Trump.

Biden menunjukan sikap kerasnya terhadap staf Gedung Putih. Joe Biden mengancam staf yang bersikap tak menghormati satu sama lain akan disingkirkan.

"Jika Anda pernah bekerja dengan saya dan saya mendengar Anda memperlakukan kolega lain dengan tidak hormat, berbicara dengan seseorang, saya akan segera memecat Anda," kata Joe Biden di Ruang Makan Negara selama upacara pengambilan sumpah Presiden Amerika Serikat, dilansir CNN, Kamis (21/1/2021).

Menurut Joe Biden, sikap saling menghormati antarpekerja di Gedung Putih hilang empat tahun belakangan. Setelah itu Joe Biden memecat Kepala Staf Rumah Tangga dan Operasi Gedung Putih, Timothy Harleth.

Harleth dipekerjakan oleh Melania Trump pada tahun 2017 untuk mengisi peran sebagai kepala pelayan Gedung Putih Amerika Serikat. Harleth datang ke Gedung Putih dari Trump International Hotel DC, di mana dia menjadi manajer kamar.

Berikut gebrakan Biden usai dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat:

1.Batalkan Proyek Pipa Minyak

Biden secara resmi mencabut izin pembangunan pipa minyak Keystone XL. Hal tersebut menghancurkan harapan Kanada untuk menyelamatkan proyek senilai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 112 triliun (kurs Rp 14.000).

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (21/1/2021), langkah tersebut merupakan kemunduran bagi industri minyak Kanada, khususnya untuk pusat energinya Alberta. Hal ini akan berdampak pada ribuan pekerjaan dan berpengaruh pada hubungan dengan Kanada.

Keystone XL sendiri merupakan milik TC Energy Group, di mana mereka sedang membangun di Kanada dan akan membawa 830.000 barel minyak mentah dari Alberta ke Nebraska per hari.

Proyek itu ditentang oleh suku asli Amerika dan pemerhati lingkungan di mana proyek tersebut kemudian ditunda selama 12 tahun terakhir. Biden juga telah berjanji untuk membatalkan proyek tersebut.

"Meskipun kami menyambut baik komitmen Presiden untuk memerangi perubahan iklim, kami kecewa tetapi mengakui keputusan Presiden untuk memenuhi janji kampanye pemilihannya di Keystone XL," kata Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Perdana Menteri Alberta Jason Kenney, yang awal pekan ini mengancam akan mengambil tindakan hukum jika Keystone XL dibatalkan Joe Biden, mengatakan bahwa ia terganggu dengan langkah tersebut.

"Ini adalah pukulan telak bagi ekonomi Kanada dan Alberta. Sayangnya, itu adalah penghinaan yang ditujukan kepada sekutu dan mitra dagang terpenting Amerika Serikat," kata Kenney.

TC Energy, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan sebelum pencabutan, menyatakan kekecewaannya dengan langkah yang dikatakannya akan membatalkan proses regulasi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Presiden AS sebelumnya, Donald Trump menghidupkan kembali proyek tersebut, tetapi masih menghadapi tantangan hukum yang sedang berlangsung.

Saham TC Energy ditutup turun 1,2% pada C$ 55,92 di Toronto sementara indeks saham acuan Kanada naik tipis 0,3%.

"Tindakan ini membunuh ribuan pekerjaan Kanada dan Amerika (Joe Biden) pada saat kedua ekonomi sangat membutuhkan investasi swasta," kata Tim McMillan, kepala eksekutif Canadian Association of Petroleum Producers.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4