Raja Malaysia Umumkan Keadaan Darurat Corona, Putri Mahathir Marah

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 14:13 WIB
Police officers check vehicles at a roadblock to ensure that people abide by a movement control order on the outskirts of Kuala Lumpur, Malaysia, Wednesday, Oct. 14, 2020. Malaysia will restrict movements in its biggest city Kuala Lumpur, neighboring Selangor state and the administrative capital of Putrajaya from Wednesday to curb a sharp rise in coronavirus cases. (AP Photo/Vincent Thian)
Foto: Corona di Malaysia (AP/Vincent Thian)
Jakarta -

Raja Malaysia mengumumkan keadaan darurat nasional hingga 1 Agustus 2021 guna membendung lonjakan kasus virus Corona. Marina Mahathir, seorang aktivis yang merupakan putri mantan Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohamad, marah dan mengkritik pengumuman itu.

Dilansir AFP, Selasa (12/1/2021), Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah setuju untuk mengumumkan keadaan darurat hingga 1 Agustus menyusul permintaan dari Perdana Menteri Muhyiddin Yassin dalam pertemuan pada Senin (11/1). Hal ini disampaikan oleh istana nasional dalam sebuah pernyataan.

Dalam pidatonya di televisi, Muhyiddin mengatakan parlemen akan ditangguhkan dan pemilihan tidak akan berlangsung. Raja dapat memberlakukan undang-undang baru jika perlu.

Tetapi pemimpin yang pemerintahannya yang berusia 10 bulan itu menghadapi sejumlah tantangan. Dia bersikeras bahwa "pemerintah sipil akan terus berfungsi".

"Deklarasi darurat... bukanlah kudeta militer dan jam malam tidak akan diberlakukan," katanya.

Namun, para kritikus mengungkapkan kekhawatiran bahwa deklarasi itu adalah langkah awal untuk mempertahankan kekuasaan oleh Muhyiddin yang dapat mengikis kebebasan sipil.

Marina Mahathir, seorang aktivis dan putri Mahathir Mohamad, menulis di Twitter bahwa deklarasi darurat adalah "deklarasi kegagalan".

"Kegagalan menangani pandemi, kegagalan pemerintahan, kegagalan peduli pada masyarakat," tulisnya.

Kritik lain juga disampaikan oleh aktivis lainnya.

"Deklarasi keadaan darurat tampaknya sebagai upaya lain oleh Muhyiddin untuk mempertahankan kekuasaan, memblokir pemilihan dan menghapus pengawasan parlemen, daripada menangani pandemi secara serius," demikian cuitan Josef Benedict dari Civicus, aliansi global organisasi masyarakat sipil dan aktivis.

"Hari yang gelap untuk demokrasi," lanjutnya dalam cuitannya di Twitter.

Simak video 'Tips agar Lancar Jalani Vaksinasi COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2