Round-Up

Usai Kerusuhan Capitol Bikin Pejabat Paman Sam Mundur Ramai-ramai

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 19:02 WIB
Massa Pendukung Trump Serbu Gedung Capitol, Pengamat: Ini Pengkhianatan
Foto: Penyerbuan Capitol (DW News)
Washington DC -

Penyerbuan massa pendukung Presiden Donald Trump ke gedung Capitol AS berujung rusuh. Para pejabat Amerika Serikat pun ramai-ramai mengundurkan diri.

Sebagaimana diketahui, kekacauan terjadi di Gedung Capitol AS pada Rabu (6/1) waktu setempat, setelah Trump berminggu-minggu melontarkan tuduhan dan klaim palsu soal kecurangan pilpres. Tuduhan itu berujung pada seruan unjuk rasa dan long march ke Gedung Capitol AS yang mewakili demokrasi AS.

Ribuan pendukung Trump yang berunjuk rasa di luar Gedung Capitol AS, akhirnya menerobos masuk dan melakukan aksi perusakan di dalam gedung. Aksi ini menuai banyak kecaman dan disebut sebagai 'pemberontakan' oleh Presiden terpilih AS, Joe Biden, yang akan dilantik pada 20 Januari mendatang.

Sejumlah pejabat pun akhirnya memutuskan untuk mundur. Siapa saja mereka?

1. Menteri Transportasi

Menteri Transportasi AS Elaine Chao mengatakan pada hari Kamis (7/1) waktu setempat bahwa dia mengundurkan diri karena penyerbuan ke Capitol oleh massa pendukung Trump tersebut.

Chao, yang menikah dengan Pemimpin Mayoritas Senat Republik Mitch McConnell, mengatakan penyerbuan itu adalah "peristiwa traumatis dan sepenuhnya dapat dihindari karena para pendukung presiden menyerbu gedung Capitol setelah acara publik yang dia hadiri."

"Itu sangat mengganggu saya dengan cara yang tidak bisa saya kesampingkan," imbuhnya seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (8/1/2021).

Beberapa anggota parlemen Demokrat menganggap pengunduran diri itu sebagai sikap. "Tikus-tikus meninggalkan kapal yang tenggelam," kata Jackie Speier, anggota kongres asal California, dalam cuitan di Twitter.

2. Menteri Pendidikan

Beberapa saat kemudian, Menteri Pendidikan Betsy DeVos menjadi anggota kedua kabinet Trump yang mengundurkan diri karena serangan massa di Capitol AS. Dia menyebut Trump telah membantu menghasut kekerasan.

"Perilaku itu tidak masuk akal bagi negara kita. Tidak salah lagi dampak retorika Anda terhadap situasi ini, dan itu adalah titik balik bagi saya," kata DeVos dalam sebuah surat kepada Trump yang diterbitkan di beberapa media AS.

3. Utusan Khusus untuk Irlandia Utara

Sebelumnya, mantan kepala staf Mick Mulvaney mengatakan dia berhenti dari jabatan diplomatiknya untuk memprotes kekerasan massa, yang didorong oleh Trump ketika dia berusaha untuk membalikkan kekalahannya dari Joe Biden dalam pilpres November 2020 lalu.

"Saya tidak bisa tinggal di sini, tidak setelah kemarin. Anda tidak bisa melihat itu kemarin dan berpikir saya ingin menjadi bagian dari itu dengan cara, atau bentuk apa pun," kata Mulvaney kepada televisi CNBC.

Mulvaney, yang telah menjabat sebagai utusan khusus untuk Irlandia Utara, mengatakan bahwa dia telah memberi tahu Menteri Luar Negeri Mike Pompeo tentang pengunduran dirinya.

Selanjutnya
Halaman
1 2