International Updates

Prancis Minta Negara Arab Setop Boikot Produknya, Macron Banjir Kecaman

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 18:10 WIB
French President Emmanuel Macron, center, visits the devastated site of the explosion at the port of Beirut, Lebanon, Thursday Aug.6, 2020. French President Emmanuel Macron has arrived in Beirut to offer French support to Lebanon after the deadly port blast.(AP Photo/Thibault Camus, Pool)
Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Prancis mendesak negara-negara Arab untuk menghentikan seruan boikot produknya. Boikot itu muncul usai pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dilansir AFP, Senin (26/10/2020) Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat, bahwa dalam beberapa hari terakhir telah ada seruan untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negara Timur Tengah serta seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satire Nabi Muhammad dari Prancis.

"Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal," kata pernyataan itu.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (26/10/2020):

- Pangeran Arab Saudi Terbaring Koma 15 Tahun, Apa Penyebabnya?

Kabar seorang pangeran Arab Saudi yang bisa menggerakkan tangannya usai koma selama sekitar 15 tahun ramai jadi perbincangan di media sosial. Dia mengalami koma usai mengalami kecelakaan.

Dilansir The New Arab, Jumat (23/10/2020), Pangeran Al-Waleed bin Khalid Al-Saud sudah dirawat dan menggunakan ventilator sejak 2005. Dia menderita pendarahan otak dalam kecelakaan mobil saat menempuh studi di sebuah perguruan tinggi militer. Akibat insiden itu, Pangeran Al-Waleed koma selama sekitar 15 tahun.

Pada tahun 2015, dokter yang merawatnya memutuskan untuk mencabut perangkat mesin pendukung hidupnya. Namun, ayahnya, Pangeran Khalid bin Talal Al Saud dan ibunya, Putri Mona Riad El Solh -- yang merupakan putri pemimpin Lebanon -- menolak hal itu.

- Raja Malaysia Tolak Tetapkan Keadaan Darurat, PM Muhyiddin Didesak Mundur

Perdana Menteri (PM) Malaysia, Muhyiddin Yassin, menghadapi seruan mundur setelah Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong, Al-Sultan Abdullah, menolak permintaannya untuk menetapkan keadaan darurat demi memerangi pandemi virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir Reuters, Senin (26/10/2020), seruan mundur itu berasal dari partai politik anggota koalisi pemerintahannya sendiri. Penolakan Sultan Abdullah terhadap permintaan PM Muhyiddin memicu keraguan soal kepemimpinannya atas Malaysia.

Tonton video 'Presiden Prancis Sebut Guru yang Dipenggal Pahlawan':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2