Round-Up

4 Negara Latihan Perang Bersama untuk Antisipasi China

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 07:38 WIB
Flares are set off from Fong Yang (FFG-933) Chi Yang class frigate (Knox class) during a drill near Yilan naval base, Taiwan April 13, 2018. REUTERS/Tyrone Siu     TPX IMAGES OF THE DAY
Ilustrasi Latihan Militer (Foto: Dok. REUTERS/Tyrone Siu)
Jakarta -

Meningkatnya pengaruh China di dunia internasional membuat sejumlah negara waspada. Ada empat negara yang merencakan akan menggelar latihan perang bersama di lepas pantai India bulan depan.

Dilansir AFP, Selasa (20/10/2020), negara yang akan ikut dalam latihan militer itu yakni India, Jepang, Amerika Serikat dan yang terbaru Australia. Latihan militer empat negara itu akan digelar pada November mendatang.

Menteri Pertahanan Australia, Linda Reynolds pada Senin (19/10) malam mengatakan latihan bersama itu bertujuan untuk menunjukkan tekad kolektif mendukung Indo-Pasifik yang terbuka dan makmur. Pernyataan itu merupakan sebuah kiasan yang digunakan dengan baik untuk melawan kekuatan otoriter China.


Karenanya, Austria memutuskan untuk bergabung dalam latihan militer di lepas pantai India bulan depan. Bergabungnya Australia merupakan pertama kalinya sejak 2007.

Latihan bersama itu dilakukan saat sejumlah negara sedang bersitegang dengan China. Mereka bersitegang di sejumlah bidang.

Ketegangan diplomatik terjadi antara China dan Australia, lalu ketegangan ekonomi antara China dan Amerika Serikat. Selain itu, terjadi juga ketegangan militer antara China dan India.

Pengaruh China meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade di sejumlah negara seperti di Myanmar, Sri Lanka, Pakistan, dan Bangladesh. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di New Delhi, India.


Sebelumnya, India dan China telah mengerahkan puluhan ribu pasukan ke zona perbatasan sengketa sejak pertempuran sengit pada bulan Juni yang menewaskan 20 tentara India dan sejumlah tentara China yang tidak diketahui jumlahnya.

India dan China yang bertetangga telah terlibat dalam konfrontasi perbatasan selama berbulan-bulan di wilayah Ladakh, dengan bentrokan sengit antara militer kedua negara pada Juni lalu memicu korban dari kedua pihak.

Baik India maupun China telah menggelar serangkaian pembicaraan militer dan diplomatik, namun hanya mengalami sedikit kemajuan.


Ketegangan AS dan China juga terjadi lantaran persoalan Laut China Selatan. Pada September lalu, Otoritas China menuduh AS telah menjadi 'pendorong terbesar bagi militerisasi' di perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Tuduhan ini disampaikan China di tengah ketegangan dengan AS.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (10/9), tuduhan itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, dalam pertemuan virtual dengan para Menlu negara-negara Asia Tenggara yang digelar sebagai bagian dari konferensi ASEAN.

"Amerika Serikat menjadi pendorong militerisasi terbesar di Laut China Selatan," sebut Wang dalam pertemuan virtual itu.

Namun demikian, Wang menyatakan China bersedia untuk berkomunikasi dan berdialog dengan AS demi mencapai kerja sama.

(man/lir)