International Updates

Trump Klaim Menangi Debat Pertama, Biden Ucap 'Insyaallah' Saat Debat

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 17:46 WIB
Joe Biden dan Donald Trump (AP Photo)
Joe Biden dan Donald Trump (AP Photo)

- Biden Keceplosan Ucap 'Insyaallah' Saat Debat Capres

Pada salah satu momen di debat calon Presiden AS, mantan Wakil Presiden Joe Biden mengucapkan 'insyaallah' saat membahas masalah pajak Donald Trump. Ucapan Biden itu pun ramai dibahas di media sosial.

Dilansir CNN, Kamis (1/10/2020), mulanya, Biden menekan Presiden Donald Trump tentang kapan publik AS akan melihat pengembalian pajaknya yang telah lama dinantikan, dia bertanya: "Kapan? Insyaallah?"

Bagi muslim, 'insyaallah' dimaknai sebagai komitmen kuat untuk melaksanakan suatu janji. Namun dalam nilai umum, 'insyaallah' kerap diidentikkan sebagai respons 'tidak berkomitmen' terhadap sebuah pertanyaan. Padahal, seperti disebut sebelumnya, pernyataan 'insyaallah' harusnya menjadi tanda bahwa seseorang berkomitmen melaksanakan sesuatu yang sudah diucapkan.

- Alexei Navalny: Putin Ada di Balik Kejahatan terhadap Saya

Tokoh oposisi Rusia yang juga pengkritik Kremlin, Alexei Navalny, menyebut Presiden Vladimir Putin ada di balik dugaan diracunnya dirinya. Navalny menekankan dirinya tidak takut pada apapun.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (1/10/2020), Navalny diterbangkan dari Rusia ke Berlin, Jerman, pada Agustus lalu setelah dia jatuh sakit dalam penerbangan domestik. Navalny kemudian menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Charite, Berlin.

Dalam wawancara dengan media terkemuka Jerman, Der Spiegel, Navalny menyebut nama Putin saat ditanya soal dugaan diracunnya dirinya.

"Saya mengklaim bahwa Putin ada di balik kejahatan tersebut dan saya tidak memiliki versi lain atas apa yang terjadi," tegas Navalnya kepada Der Spiegel. Wawancara ini akan diterbitkan pada Kamis (1/10) malam waktu setempat.

- Pemerintah Turki Dituduh Tutupi Situasi Pandemi Corona Sebenarnya

Pemerintah Turki dituduh menyembunyikan situasi sebenarnya dari pandemi virus Corona (COVID-19) di negara tersebut. Tuduhan ini muncul setelah Kementerian Kesehatan Turki mengungkapkan bahwa angka harian kasus Corona yang dirilis hanya mencakup pasien dengan gejala dan bukan semua kasus positif Corona.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (1/10/2020), Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, mengakui dalam konferensi pers pada Rabu (30/9) malam bahwa sejak 29 Juli, Turki telah melaporkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit atau di rumah masing-masing.

Angka itu, sebut Koca, tidak termasuk kasus positif Corona tanpa gejala (asymptomatic). Penjelasan ini disampaikan Koca saat ditanya soal jumlah tambahan kasus harian, yang menjadi indikator penting untuk mencari tahu arah pandemi Corona di negara manapun.

"Kita bicara soal orang-orang dengan gejala. Kita memberikan ini sebagai jumlah pasien harian," tutur Koca kepada wartawan setempat.

Halaman

(nvc/nvc)