Jejak Kaki Manusia dari 120 Ribu Tahun Lalu Ditemukan di Arab Saudi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 09:35 WIB
Temuan jejak kaki berusia 120 ribu tahun (Klint Janulis/AFP Photo)
Foto: Temuan jejak kaki berusia 120 ribu tahun (Klint Janulis/AFP Photo)
Riyadh -

Komisi Warisan Arab Saudi baru saja mengungkap penemuan situs arkeologi baru yang berusia 120.000 tahun. Situs itu menunjukkan jejak kaki manusia purba.

Dilansir AFP, Jumat (18/9/2020), melalui upaya bersama tim penggalian lokal dan internasional, jejak kaki manusia, gajah, dan predator ditemukan di sekitar danau kering purba di pinggiran Tabuk, di wilayah barat laut Kerajaan Saudi.

Hal ini menandai penemuan ilmiah pertama dari tempat tinggal manusia tertua di Jazirah Arab serta memberikan gambaran langka tentang kondisi kehidupan orang-orang di wilayah tersebut selama perjalanan mereka.

Tim tersebut dapat mengidentifikasi jejak kaki tujuh manusia, 107 unta, 43 gajah dan jejak hewan lain dari spesies ibex dan sapi, menunjukkan bahwa mereka bergerak dalam kelompok dewasa dan keturunan.

Fosil gajah dan tulang kijang juga ditemukan. Penemuan ini disebut membantu para peneliti dalam menggambarkan sejarah.

"Penemuan seperti ini membantu kita untuk mengkontekstualisasikan sejarah kerajaan, memungkinkan kita untuk lebih memahami perjalanan nenek moyang kita dari peradaban kuno ke tempat kita saat ini. Kerajaan ini bangga dengan beberapa warisan terkaya di kawasan itu selama ribuan tahun, dan penemuan ini menunjukkan apa yang dapat dipelajari dari lanskap Arab Saudi yang beragam," kata Dr Jasir Alherbish, kepala eksekutif dari Komisi Warisan selama konferensi pers.

"Sebuah tim yang terdiri dari arkeolog dan peneliti Saudi yang berkualifikasi tinggi bekerja bersama mitra internasional kami untuk mengungkap, mendokumentasikan, dan melestarikan harta yang telah digali ini. Kami berharap penemuan seperti itu akan menginspirasi generasi berikutnya dari sejarawan dan arkeolog Saudi, karena kami terus mengungkap lebih banyak sejarah kerajaan yang tak terhitung," lanjutnya.

Tetapi penelitian selama dekade terakhir menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu terjadi - karena variasi iklim alami, ia mengalami kondisi yang jauh lebih hijau dan lebih lembap dalam periode yang dikenal sebagai interglasial terakhir.

Selanjutnya
Halaman
1 2