Round-Up

Panas Hubungan Jerman-Rusia Usai Pengkritik Putin Diracun hingga Koma

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 08 Sep 2020 05:43 WIB
Alexei Navalny: Pemerintah Jerman pastikan pemimpin oposisi Rusia diracuni agen saraf Novichok
Foto: Alexei Navalny (BBC World)
Berlin -

Hubungan Jerman dan Rusia memanas usai tokoh oposisi Alexei Navalny diduga diracun hingga koma. Pemerintah Jerman akan memberikan sanksi ke Rusia atas insiden ini.

Seperti dilansir AFP, Senin (7/9/2020), pemimpin oposisi Rusia dan juru kampanye antikorupsi, Navalny mendadak sakit dalam penerbangan bulan lalu dan dirawat di rumah sakit Siberia sebelum dievakuasi ke Berlin, Jerman. Keadaan Navalny masih koma.

Pemerintah Jerman mengatakan pekan lalu ada "bukti kuat" bahwa musuh utama Presiden Rusia Vladimir Putin itu telah diracuni oleh agen saraf era Uni Soviet, Novichok.

Jerman, yang memegang jabatan presiden bergilir Uni Eropa, akan membahas kemungkinan sanksi terhadap Rusia jika Kremlin tidak memberikan penjelasan "dalam beberapa hari mendatang". Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada Minggu (6/9) waktu setempat.

"Kami memiliki harapan tinggi dari pemerintah Rusia untuk menyelesaikan kejahatan serius ini," kata Maas kepada harian Jerman Bild.

"Jika pemerintah tidak ada hubungannya dengan serangan itu, maka itu adalah kepentingannya sendiri untuk mendukung ini dengan fakta."

Jika tidak, Jerman akan dipaksa untuk "membahas tanggapan dengan sekutu kami," kata Maas. Sanksi apa pun yang diputuskan harus "ditargetkan", tambahnya.

Para pemimpin Barat dan banyak orang Rusia telah menyatakan kengeriannya atas apa yang dikatakan sekutu Navalny sebagai penggunaan senjata kimia pertama yang diketahui terhadap pemimpin oposisi terkemuka di wilayah Rusia.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab pada Minggu (6/9) mengatakan bahwa Rusia memiliki "serangkaian pertanyaan yang sangat serius untuk dijawab" dan "jelas" mengenai kritikus Kremlin yang diracuni Novichok.

Tonton video 'Presiden Belarusia: Keracunan Alexei Navalny Cuma Hoax':

[Gambas:Video 20detik]



Semantara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya belum melihat bukti bahwa pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny telah diracuni seperti yang dinyatakan oleh Jerman.

"Saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya pikir ini tragis, mengerikan, seharusnya ini tidak terjadi," kata Trump.

"Kami belum memiliki bukti apa pun, tetapi saya akan melihatnya," kata Trump dalam konferensi pers seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/9/2020).

Sedangkan Kremlin membantah bertanggung jawab atas serangan itu dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa Jerman belum berbagi temuan apa pun dengan jaksa penuntut Moskow.

Juru bicara Kremnlin, Dmitry Peskov, menegaskan bantahan Rusia atas tuduhan bahwa pemerintah Rusia ada di balik serangan terhadap Navalny. Peskov memperingatkan negara lain untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

"Tidak ada alasan untuk menuduh negara Rusia. Dan kami cenderung tidak menerima tuduhan apapun terkait ini," tegas Peskov.

(rdp/rdp)