Usai Hagia Sophia, Erdogan Juga Ubah Gereja Bersejarah Chora Jadi Masjid

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 22 Agu 2020 01:20 WIB
ISTANBUL, TURKEY - JULY 24: Curtains cover a Christian fresco inside the Hagia Sophia Grand Mosque after the first official Friday prayers were held on July 24, 2020 in Istanbul, Turkey. Turkeys President Recep Tayyip Erdogan attended the first Friday prayer inside the Hagia Sophia Mosque after it was officially reconverted into a mosque from a museum. The controversial decision to change the iconic buildings status came after Turkeys highest administrative court voted on July, 10 to revoke the structures status as a museum allowing it to be converted back to a mosque. Throughout its history the UNESCO World Heritage site has served as a Byzantine Cathedral, a mosque under Ottoman rule, and most recently a museum. Thousands of worshippers from all over Turkey flocked to the site for the chance to pray inside the historic building for the first Friday prayers.   (Photo by Chris McGrath/Getty Images)
Ilustrasi Hagia Sophia diubah kembali menjadi masjid (Foto: Getty Images/Chris McGrath)
Ankara -

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengubah kembali gereja bersejarah di Turki, gereja Chora, menjadi masjid. Diubahnya salah satu bangunan Bizantium paling terkenal di Istanbul menjadi masjid itu dilakukan Erdogan satu bulan setelah membuka Hagia Sophia sebagai tempat ibadah umat Muslim.

Dilansir dari Reuters, Jumat (21/8/2020), gereja Juruselamat Suci Abad Pertengahan di Chora itu dibangun di dekat tembok Konstantinopel. Bangunan gereja itu berisi mosaik dan lukisan dinding Bizantium abad ke-14 yang menampilkan pemandangan dan cerita-cerita dari Alkitab.

Hiasan itu ditutup setelah kota itu ditaklukkan oleh Ottoman Muslim pada tahun 1453. Mosaik dan lukisan dinding itu dibuka kembali saat, seperti di Hagia Sophia, bangunan itu diubah menjadi museum oleh pemerintah Turki lebih dari 70 tahun lalu.

Erdogan, yang partainya berakar pada politik Islam, telah memosisikan dirinya sebagai pemimpin Muslim Turki yang taat. Bulan lalu, ia bergabung dengan puluhan ribu jemaah lain dalam momen salat pertama di Hagia Sophia dalam 86 tahun terakhir.

Langkah Erdogan itu mendapat kritik tajam dari para pemimpin gereja dan beberapa negara Barat. Mereka mengatakan bahwa mengubah Hagia Sophia secara eksklusif untuk ibadah umat Muslim berisiko memperparah perpecahan agama.

Tahun lalu, pengadilan Turki membatalkan keputusan pemerintah Tukri tahun 1945 yang mengubah Chora, atau dikenal sebagai Kariye dalam bahasa Turki, menjadi museum yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan.

Dekret soal berubahnya peruntukan Chora atau Kariye menjadi masjid ditandatangani oleh Erdogan dan diterbitkan dalam lembaran resmi Turki, Jumat (21/8). Dalam dekret itu disebutkan "pengelolaan Masjid Kariye dipindahkan ke Direktorat Urusan Agama, dan (masjid) dibuka untuk beribadah".

(azr/azr)