Perairan Mediterania Timur Bersengketa, Turki Tetap Kirim Kapal Guna Penelitian

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 16 Agu 2020 02:51 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan addresses the 73rd session of the United Nations General Assembly at U.N. headquarters in New York, U.S., September 25, 2018. REUTERS/Carlo Allegri
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: REUTERS/Carlo Allegri)

Turki berpendapat bahwa Yunani menggunakan kontrolnya atas beberapa pulau kecil di lepas pantai Turki untuk mengklaim bagian Laut Mediterania yang sangat besar.

Ia juga mengutip contoh perjanjian internasional masa lalu yang memberi kekuatan pesisir hak atas perairan meskipun ada pulau negara lain di dekat pantainya.

Perselisihan diplomatik membuat Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Dendias mencari dukungan Washington pada pertemuan di Wina dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo minggu ini.

Namun baik Washington dan Brussel ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Erdogan.

Seorang pejabat Eropa mengatakan kepada AFP bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan Erdogan pada Juli bahwa Turki akan menghadapi sanksi UE jika mengebor di perairan Siprus atau di lepas pulau Yunani Kastellorizo.

Pada hari Kamis, kepala Uni Eropa Charles Michel menggarisbawahi solidaritas Uni Eropa dengan negara-negara anggota Yunani dan Siprus dan mendesak Erdogan untuk "mengurangi ketegangan dan menghindari provokasi".

Erdogan mengatakan negaranya siap untuk berdialog, tetapi sekali lagi menyerang Yunani pada hari Sabtu, menuduh Athena memperlakukan minoritas Muslim dan berbahasa Turki di wilayahnya.

Otoritas Yunani "harus, tanpa penundaan, mengakhiri tindakan yang menyerupai terorisme negara. Ada serangan terhadap masjid dan sekolah kami", kata presiden Turki, tanpa memberikan rincian apapun.

Halaman

(eva/eva)