Mahasiswa China di Sydney Jadi Korban Penipuan 'Penculikan Virtual'

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 17:11 WIB
The death of a deaf man who was shot after a North Carolina Highway Patrol officer tried to pull him over for speeding is being investigated (AFP Photo/Joshua Lott)
Ilustrasi (AFP Photo/Joshua Lott)
Sydney -

Kepolisian Australia mengungkapkan bahwa sejumlah mahasiswa China di Sydney menjadi korban penipuan pemerasan yang digambarkan sebagai penculikan virtual. Dalam kasus ini, para mahasiswa China dipaksa untuk berfoto dan merekam diri mereka dalam keadaan terikat dan ditutup matanya seperti sedang diculik.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/7/2020), Kepala Detektif Kepolisian negara bagian New South Wales, Inspektur Darren Bennett, menuturkan bahwa sedikitnya delapan mahasiswa menjadi korban penipuan tersebut pada tahun ini.

Disebutkan Bennett bahwa sindikat kriminal mampu meraup AUS$ 3,2 juta atau setara Rp 33 miliar dari tindak penipuan pemerasan semacam ini.

Dalam kasus ini, para mahasiswa biasanya dihubungi oleh seseorang yang fasih dalam bahasa Mandarin yang mengaku sebagai seseorang yang memiliki wewenang di China, seperti petugas Kedutaan Besar, polisi atau petugas pajak. Para mahasiswa itu diberitahu bahwa mereka berisiko dideportasi atau ditangkap kecuali keluarga mereka membayar tebusan.

Para mahasiswa pun dipaksa mengirimkan gambar diri mereka dalam keadaan diikat dan disumpal mulutnya. Mereka juga dipaksa pindah ke hotel dan memutuskan seluruh komunikasi.

"Pesan kami hari ini untuk semua orang adalah, jika Anda menerima panggilan telepon yang mendorong Anda untuk menyetor uang ke rekening bank oleh seseorang yang berpura-pura memiliki posisi berwenang di China atau lokasi lainnya, jangan membayar, lebih baik tutup saja teleponnya, hubungi polisi, atau hubungi pihak universitas atau fasilitas pendidikan untuk mendapatkan saran dan konseling," terang Bennett.

Asisten Komisioner Kepolisian New South Wales, Peter Thurtell, menegaskan bahwa otoritas China telah memastikan Kepolisian China bahwa dalam situasi apapun, tidak mungkin seorang pejabat pemerintah China menghubungi seorang mahasiswa di luar negeri untuk meminta uang.

Praktik penipuan semacam ini semakin meningkat seiring memburuknya hubungan Australia dan China terkait beberapa isu, termasuk seruan Australia atas penyelidikan independen terhadap asal-usul virus Corona (COVID-19) dan respons internasional atas pandemi global yang dipicu virus itu.

China yang menjadi sumber terbesar bagi mahasiswa asing di universitas-universitas Australia, telah memperingatkan para mahasiswa dan turis di negara itu bahwa mereka berisiko menjadi korban aksi rasisme yang meningkat di Australia karena pandemi Corona.

(nvc/ita)